Categories
Uncategorized

Vaksin, media, dan kebodohan berulang

Pernah dengar orang yang terbiasa jadi juara kelas sejak kecil, justru kalah sukses di kehidupan pasca sekolah dengan mereka yang sejak kecil prestasinya di sekolah biasa-biasa saja? Orang yang prestasinya tidak menonjol di kelas, belum tentu memiliki masalah intelegensi yang rendah, bisa jadi mereka seperti itu karena justru sedang mempertanyakan kebenaran dari apa yang diajarkan ke mereka. Sedangkan orang yang terbiasa memiliki prestasi di sekolah, banyak di antara mereka tidak memiliki pandangan kritis tentang bagaimana sebuah ilmu seharunya didapat, mereka cenderung bersikap seperti robot yang menyalin mentah-mentah informasi yang diberikan kepada mereka, meyakini 100% semua pelajaran yang ada di sekolah dan berkeyakinan bahwa semuanya sudah pasti benar, jika ada informasi yang berbeda dari yang diajarkan di sekolah, maka yang salah pasti informasi yang lain, pelajaran di sekolah tidak mungkin salah.

Menurut Charles Darwin, yang teorinya kemudia diajarkan di semua sekolah di seluruh dunia, kita semua adalah turunan kera, meskipun kitab suci mengatakan manusia adalah anak Adam, coba tanyakan pada diri anda sendiri, anda turunan kera atau manusia? Kalau anda menyangkal teori bahwa anda adalah turunan kera, berarti anda telah lancang menentang ilmu yang diajarkan di sekolah, anda telah keluar dari sistem yang “benar”!

Jika anda punya anak, jangan hanya mengajari mereka bagaimana cara membaca, ajari juga mereka bagaimana cara berpikir

Covid 19, dan hilangnya kemampuan berpikir manusia

Sejak awal tahun, semua media arus utama kompak memborbardir pikiran milyaran penduduk dunia tentang seberapa buruk virus Sars-CoV-2, dan betapa pentingnya mengunci diri di dalam rumah agar jutaan nyawa bisa diselamatkan dari patogen mematikan ini. Menurut media, kita sedang berada dalam siklus 100 tahunan di mana virus mematikan melanda dunia dan mengancam ratusan juta nyawa manusia, sampai-sampai Kanselir Jerman, Angela merkel meminta maaf dan memohon pada warga Jerman untuk mematuhi protokol kesehatan yang diajarkan WHO Angela Merkel Minta Maaf & Memohon ke Warga Jerman.

“Ketika seluruh ilmuwan bicara bahwa kita harus mengurangi kontak erat seminggu sebelum kita bertemu kakek nenek dan orang-orang yang lebih tua saat natal, lalu mungkin saatnya kita berpikir lagi bahwa kita tidak mendapatkan cara untuk memulai libur sekolah, bagaimana kita dapat melihat kembali bahwa kejadian yang terjadi seabad sekali ini jika kita tidak mendapatkan solusi untuk tiga hari ini?” ucap Merkel dengan nada memohon.

Dari kalimat ini, ada usaha untuk meyakinkan orang-orang bahwa kita sedang berada di dalam situasi pandemi terburuk sejak pandemi Flu Spanyol melanda dunia satu abad yang lalu, lalu pertanyaannya, apa benar?

Selama dua tahun (1918-1920) pandemi virus influenza A subtipe H1N1, 1/3 penduduk dunia terpapar virus ini dan menyebabkan 50 juta nyawa melayang, sumbernya ada di sini spanish flu, lalu bagaimana dengan covid 19? Setahun sejak berita pertama kemunculan virus ini di Wuhan, sampai tulisan ini dibuat, baru 1% penduduk dunia yang dinyatakan terpapar Covid 19, dengan tingkat kematian sekitar 1,6 juta covid 19 statistics, atau hampir sama dengan kasus kematian akibat TBC yang di tahun 2018 merenggut 1,4 juta nyawa manusia TB in 2018. Sebagai informasi, bakteri TBC juga dapat ditularkan melalui droplet dan airborne, sama seperti Covid 19, dan tingkat fatalitasnya bahkan 4 kali bebih tinggi dari Covid 19, artinya, jika anda terkena TBC, maka peluang anda untuk mati 4x lebih tinggi dibanding ketika anda dinyatakan positif Covid 19. Informasi dan perbandingan objektif semacam ini tidak akan pernah anda dapatkan dari media, yang ada justru berita semacam ini remehkan corona, orang ini meninggal positif Covid 19. Jika Covid 19 tidak berbahaya, buktinya itu ada orang yang meninggal karena Covid, padahal dia masih muda dan tidak memiliki penyakit bawaan! Logika berpikir seperti ini terdengar ilmiah dan masuk akal, tetapi sebenarnya menyimpan celah kebodohan yang kronis. Jika menggunakan teori seperti ini, maka kita tidak seharusnya pergi keluar rumah untuk berkendara karena rata-rata tiga orang meninggal setiap jamnya akibat kecelakaan lalu lintas, anda juga harus panik ketika digigit nyamuk karena anda berpotensi untuk meregang nyawa akibat malaria dan demam berdarah kematian akibat DBD. Semua data kematian selain Covid 19, selalu menggunakan perhitungan statistik dengan perbandingan jumlah populasi penduduk. Akan tetapi, khusus Covid 19, yang digunakan bukan persentase per penduduk melainkan jumlah total manusia yang dinyatakan positif, sehingga angka yang terlihat seolah-olah besar, dan kondisi saat ini sedang genting, padahal jika kita bandingkan secara objektif, tidak ada ledakan jumlah kematian seperti yang diberitakan media, bahkan di beberapa kasus, angka kematian justru turun! Tahukah anda? angka kematian di Jakarta setelah Covid-19 justru turun.

Vaksin, bahaya lain dari kebodohan publik

Ketika anda menyadari bahwa kasus kematian akibat Covid 19 ternyata tidak seburuk seperti apa yang digambarkan media, di mana kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa lebih dari 80% orang yang dinyatakan positif adalah orang yang sehat mayoritas positif covid 19 OTG, dan sebagian besar kematian didominasi oleh orang-orang dengan riwayat penyakit penyerta (comorbid) yang tanpa Covid 19 saja, kemungkinan mereka bertahan hidup sudah sangat kecil, maka urgensi dari vaksinasi massal penduduk dunia sebagai tindakan penanggulangan “pandemi” Covid 19 sangat perlu dipertanyakan.

tidak banyak yang tahu bahwa 3 bulan sebelum outbreak muncul, di bulan Oktober 2019 pernah diadakan simulasi pandemi global yang diinisiasi oleh Bill and Melinda Gates Foundation, John Hopkins University dan World Economic Forum yang belakangan pernyataan-pernyataan mereka rutin dikutip media arus utama sebagai “saran ahli” untuk menjadi petunjuk bagaimana seharusnya manusia menyikapi “pandemi global” yang genting ini. Untuk anda yang tidak terlalu tertarik menonton video di atas, saya akan kutipkan intisari simulasi mereka di sini:

Terjadi kasus penularan virus jenis baru di sebuah kota di Amerika Selatan di mana virus dari hewan ini menular ke manusia, virus ini bukan Ebola, bukan juga Flu Babi, tapi CORONAVIRUS. Mirip seperti apa yang terjadi di Wuhan? perlu anda ketahui, simulasi ini dilakukan dua bulan sebelum outbreak di Wuhan muncul di mana baru ramai diberitakan di bulan Januari 2020.

orang yang sama yang menginisiasi Event 201 di New York, pernah memperingatkan outbreak yang akan terjadi 5 tahun lalu

Suatu kebetulan? anda merasa beruntung bahwa orang dermawan ini secara aktif melakukan simulasi pandemi dan fokus mendorong pengembangan vaksin untuk dunia yang lebih baik? bagaimana dengan tulisan ini? Scenarios for the Future of Technology and International Development meskipun yang tertulis di dalam laporan yang digagas oleh The Rockefeller Foundation 10 tahun lalu ini sejalan dan seirama dengan apa yang terjadi saat ini, tetap saja akan selalu ada berita “ilmiah” dari sumber terpercaya media arus utama yang membantah kesimpulan yang saya tulis di blog saya ini, dan pemerintah bahkan mengangkat tema ini di situs resmi covid19.go.id – hoax-buster. Orang-orang seperti saya adalah penyebar hoaks penggemar teori konspirasi, bodoh dan terbelakang, Covid 19 ini adalah bahaya nyata, yang terjadi secara alami karena mutasi virus jenis baru, sehingga kita semua wajib patuh terhadap arahan WHO sebagai badan kesehatan dunia yang sangat peduli dengan kesehatan dan nyawa anda.

Jika pemerintah dan media betul-betul memiliki data dan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan serta dapat membantah tulisan orang-orang seperti saya, seharusnya mereka berani untuk mendebat kami, ini adalah kesempatan mereka untuk membasmi orang-orang seperti saya, agar tidak ada lagi informasi yang “salah” terus menyebar di masyarakat, bantah dengan data dan fakta yang lebih kuat, bukan dengan mensensor informasi yang kami tawarkan, menutup jalur tukar pendapat sambil terus menggoblok-gobloki kami dengan label penyebar teori konspirasi di seluruh media mainstream agar masyarakat awam hanya mendapat informasi dari satu arah, tidak boleh ada alternatif lain, meskipun alternatif lain yang kami tawarkan ini ternyata lebih masuk akal dan memiliki potensi kebenaran yang jauh lebih tinggi dari berita media mainstream beberapa bulan ini.

Mengenai Vaksin, ada informasi lain yang perlu saya tekankan di sini:

sebelum era Covid 19, rata-rata pengembangan vaksin dilakukan dalam periode 10-15 tahun, dan dengan tingkat efektivitas yang beragam, mulai dari 50-70% efektivitas vaksin BCG

akan tetapi, di tahun 2020 ini dunia farmasi tiba-tiba berkembang dengan kecepatan yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah pengobatan modern. Meskipun virus seperti HIV, SARS dan MERS yang lebih “senior” dari Covid 19 hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya, tetapi untuk Covid 19, penyakit yang disebakan oleh Coronavirus jenis baru, sebuah virus hasil mutasi yang sebelumnya tidak pernah ditemukan, tiba-tiba banyak perusahaan farmasi yang bergerak di bidang pengembangan vaksin seperti Pfizer, Moderna dan Sinovac mengklaim telah menemukan vaksin potensial untuk melawan Covid 19, dengan semuanya mengklaim bahwa tingkat efektivitas vaksin mereka di atas 90% serta dengan waktu pengembangan kurang dari satu tahun sejak WHO menyatakan Covid 19 sebagai pandemi global, anda tidak merasa ada yang aneh? Sekali lagi, sebelum 2020, pengembangan vaksin memerlukan waktu setidaknya 10-15 tahun sebelum dapat diberikan kepada masyarakat, itu pun dengan tingkat efektivitas sekitar 70%. Di 2020 ini, tiba-tiba ada coronavirus jenis baru, yang menurut para ahli sangat berbahaya, tetapi vaksin potensialnya bisa ditemukan kurang dari satu tahun dan dengan tingkat efektivitas jauh di atas vakisn-vaksin lain yang perlu diuji selama bertahun-tahun di laboratorium, tidak kah ini melukai logika berpikir anda? apakah ini bukan sebuah bentuk penghinaan terhadap anugrah kecerdasan yang telah diberikan Tuhan pada anda?

ini adalah kuliah yang disampaikan oleh Bill Gates mengenai vaksin, pemanasan global serta perlunya dunia mengurangi populasi manusia yang dirasa sudah terlalu banyak.

karena tulisan ini sudah sangat panjang, maka saya akan bahas ini di kesempatan berikutnya, insya Allah.

Categories
Uncategorized

Covid-19, dan Hitungan Mundur Penyambutan “The Hamashiach” (Part – II)

Bagi orang yang masih buta tentang ilmu akhir zaman, maka mereka akan melihat peringatan saya di tulisan sebelumnya Persiapan Penyambutan Hamashiach Part I sebagai prediksi ngawur, meskipun kurang dari seminggu setelah tulisan pertama saya di-upload, Pilpres di AS benar-benar berakhir ricuh Rusuh Pilpres AS, dari New York hingga Los Angeles, dan ini baru permulaan, dalam waktu tidak lama lagi, dan tentu saja prediksi saya ini bisa salah, kita akan melihat kerusuhan menjurus perang saudara di AS, setidaknya itu lah kecenderungan yang akan terjadi di bulan-bulan yang akan datang Gun sales first time buyers skyrocket amid fears bloody election, Penjualan senjata api melonjak jelang pilpres AS, dan bukan suatu kebetulan juga miliarder AS sudah berencana melakukan eksodus secara besar-besaran ke Selandia Baru untuk menyelamatkan diri bahkan sejak beberapa tahun lalu New Zealand Doomsday Preppers.

Kenapa kita perlu fokus membahas pemilu Amerika? Sebuah negara berjarak ribuan kilometer di seberang samudra atlantik yang banyak dibenci umat muslim? Bukan kah ketika mereka runtuh, itu merupakan kabar yang baik karena tidak akan ada lagi biang onar di dunia? Yah, saya pun berharap dunia sesederhana itu, tapi sayangnya tidak. Dalam sistem ekonomi berbasis USD sentris yang saat ini dianut oleh perdagangan dunia, keruntuhan Amerika akan menyeret ekonomi dunia ke dalam kekacauan. Cadangan Devisa mayoritas negara-negara dunia adalah dalam bentuk USD, dan utang negara serta korporasi sebagian besar juga dalam bentuk USD, jatuhnya USD akan diikuti oleh kolapsnya sistem mata uang dunia (fiat money) yang berbasis hutang dan bunga. Kita berada di ujung masa peralihan dari negara superpower kedua, menuju negara superpower ketiga, Pax Americana, digantikan oleh Pax Judaica. Masa di mana satu harinya adalah seperti sebulan, akan berganti menjadi satu harinya terasa seperti seminggu.

Dari Nawas bin Sim’an al-Kilabi ra berkata; Rasulullah Saw menyebut tentang Dajjal, sampai kita berkata, “Ya Rasulullah berapa lama dia di bumi?” Rasul menjawab, “Selama empat puluh hari, hari seperti setahun, hari seperti sebulan, dan sehari seperti seminggu, dan seluruh hari-harinya seperti hari-hari kalian.” Mereka berkata, “Pada hari itu apakah memadai bagi kamu shalat seperti sekarang?” Kata Nabi, “Tidak, maka hendaknya shalat sebagaimana kadar seperti biasanya.” (HR. Muslim)

Jika anda meyakini bahwa apa yang diajarkan di sekolah dulu adalah suatu kebenaran, maka anda tidak akan dapat melihat kejadian besar yang akan segera datang, kenapa? Karena anda percaya bahwa anda adalah makhluk hasil dari evolusi kera, sehingga anda tidak bisa berpikir lebih jauh sama seperti kera kebanyakan. Sedangkan kami, yang diberi petunjuk melalui kitab suci, meyakini bahwa kami adalah makhluk yang berbeda dari kera paling cerdas sekalipun, kami adalah keturunan dari makhluk cerdas bernama MANUSIA,itu sebabnya kami dapat melihat apa yang tidak dapat anda lihat. 

Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda: ”Dan di antara kedua matanya termaktub tulisan “kafir (H.R. Bukhari, Kitabul Fitan, Bab Dzikrid Dajjal Jilid 13 hal 91).

Kemudian beliau SAW mengejanya, “Kaf-Fa-Ra- yang dapat dibaca oleh setiap muslim,” (H.R. Muslim Jilid 18: 59).

Tulisan Kaf-Fa-Ra bukanlah konteks yang perlu kita artikan secara harfiah, tapi ini adalah istilah untuk membedakan bagaimana seharusnya kita melihat dunia modern saat ini. Tanpa Nur (cahaya) ilahiah, kita akan sama dengan mereka yang buta sebelah matanya, dan konsekuensi lebih jauh, kita akan gagal dalam mengidentifikasi siapa pihak yang bermain di belakang layar.

Zionisme bukanlah Yudaisme

Banyak orang yang salah kaprah dan menyamakan Zionis dengan Yahudi, padahal keduanya jelas berbeda. Umat Yahudi yang memegang teguh ajaran Torah, tidak akan pernah mau untuk mendirikan negara sendiri di Yerusalem sebelum Mesias yang dijanjikan datang.

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Yeremia 29:7

kita telah disumpah, oleh tiga sumpah yang kuat, bukan untuk menguasai tanah suci sebagai suatu kelompok yang menggunakan kekuatan, tidak untuk memberontak melawan pemerintah negara-negara di mana kita hidup, dan bukan melalui dosa-dosa kita, untuk memperlama kedatangan mesias Traktat Ketubot 111a.

Neturei Karta yang konsisten membela Palestina
Zionisme Beda dengan Yudaisme

Umat Yahudi yang asli tidak akan mau mengakui negara Israel yang saat ini berdiri di atas tanah Palestina, mereka hanya akan mau mengakui negara ini hanya jika Mesias telah datang dan membawa mereka kembali ke tanah yang dijanjikan. Itu sebabnya, meskipun pemerintah Israel menjanjikan kewarganegaraan, akses perumahan dan pekerjaan bagi diaspora Yahudi di luar Israel, tetap ada sebagian kecil yang menolak untuk bermigrasi ke Israel.

Zionisme, yang sejak akhir abad 19 fokus untuk mewujudkan mimpi mereka untuk mendirikan negara Israel, tidak akan pernah berhenti untuk menjalankan misinya hingga bagian terakhir dari rencana mereka, yaitu turunnya “Al-Masih” yang dijanjikan Tuhan ke bumi. Jika melihat fakta yang terjadi saat ini, maka tampaknya mimpi mereka akan segera terwujud The Red Heifer was Born in 2018.  

TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Inilah ketetapan hukum yang diperintahkan TUHAN dengan berfirman: Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu seekor lembu betina merah yang tidak bercela, yang tidak ada cacatnya dan yang belum pernah kena kuk. Dan haruslah kamu memberikannya kepada imam Eleazar, maka lembu itu harus dibawa ke luar tempat perkemahan, lalu disembelih di depan imam.Bilangan 19:1-3

Red Heifer

ini adalah sapi betina merah yang rencananya akan dijadikan korban bakaran sebelum proses pembangunan Bait Ketiga (The Third Temple).

Tahun 2021, sapi betina ini akan menuju usia dewasa dan siap untuk dijadikan korban bakaran, yaitu usia tiga tahun. Jadi jika semuanya berjalan sesuai grand design mereka, seharusnya di tahun depan kita akan bisa melihat proses pembangunan Bait Ketiga, dan menurut hadits, masa-masa tersebut adalah masa-masa yang sangat sulit bagi manusia yang hidup di zaman tersebut.

“Sesungguhnya menjelang kemunculan Dajjal ada tiga tahun yang sangat berat. Pada tahun-tahun tersebut, manusia dilanda bencana kelaparan. Pada tahun pertama, Allah memerintahkan langit untuk tidak menurunkan sepertiga hujannya, dan memerintahkan bumi untuk tidak menumbuhkan sepertiga tetumbuhannya.

“Pada tahun kedua, Allah memerintahkan langit untuk tidak menurunkan dua pertiga hujannya, dan memerintahkan bumi untuk tidak menumbuhkan dua pertiga tetumbuhannya. Pada tahun ketiga, Allah memerintahkan langit untuk tidak menurunkan semua hujannya, sehingga tak ada setetes pun air hujan, dan Allah memerintahkan bumi untuk tidak menumbuhkan semua tetumbuhannya, sehingga tumbuhan hijau tidak tumbuh.

“Akibatnya, hewan-hewan ternak semuanya binasa dan mati kecuali yang dikehendaki hidup oleh Allah.”

Beliau ditanya, ‘Apa yang membuat manusia hidup pada zaman itu?’

Jawab beliau, “Tahlil, takbir, tahmid. Itu semua mencukupi mereka seperti halnya makanan’.” HR.Ibnu Majah

Ada banyak sekali manusia di luar sana yang begitu alergi dengan topik semacam ini, tidak peduli sejelas dan sekredibel apapun fakta yang saya sampaikan di sini, tetap akan berakhir dengan tuduhan TEORI Konspirasi, meskipun yang saya tulis adalah FAKTA dengan bukti kredibel, bukan teori ngalor-ngidul dengan mencomot beberapa kejadian untuk kemudian dicocokkan, yang di kemudian hari disebut sebagai ilmu Cocoklogi. Di sisi yang lain, narasi media mainstream yang sejak awal membangun opini publik dari asumsi di atas asumsi, justru diyakini sebagai sebuah fakta kredibel.

Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan HR. Bukhari

Tulisan ini masih akan dilanjutkan ke bagian ketiga yang insya Allah masih dalam proses penulisan. (bersambung)

Categories
Uncategorized

Covid-19, dan Hitungan Mundur Penyambutan “The Hamashiach” (Part – I)

Sudah lebih dari tujuh bulan sejak terakhir kali saya menulis di blog ini, dan akselerasi dari krisis yang saya peringatkan di bulan Maret lalu tampaknya mulai meningkat dengan kecepatan penuh karena korporasi besar yang menjadi motor penggerak ekonomi satu-persatu mulai kehabisan bensin untuk bertahan, beritanya bisa dibaca di boeing kembali PHK Ribuan karyawan, di sini Tsunami Kebangkrutan Melanda Dunia, dan di sini Uni Eropa Resmi Resesi. Kini, satu-satunya motor penggerak yang masih bisa diandalkan untuk menggerakkan ekonomi agar tidak kolaps hanyalah tinggal gelontoran stimulus pemerintah lewat mesin pencetakan utang mereka, sambil berharap agar kondisi bisa segera kembali normal agar tumpukkan utang segar dengan jumlah fantastis yang dicetak selama krisis Covid-19 ini dapat mulai dicicil lewat penarikan pajak yang lebih rajin dari pemerintah kepada rakyatnya.

Jika anda masih percaya bahwa pemulihan ekonomi akan segera terjadi karena vaksin Covid-19 telah ditemukan, dunia akan segera kembali normal seperti era Pra-Covid-19, tidak perlu lagi jaga jarak, tidak perlu lagi menggunakan masker, bebas bepergian ke mana pun, maka saran saya, segera berhenti membaca tulisan ini, cari tiket ke Disney Land dan silakan pindah ke negeri dongeng.

Dunia Tidak Seperti Apa Yang Kita Lihat

Saat tulisan ini dibuat, ada 404,048 orang yang dinyatakan positif Covid-19 di Indonesia, dengan jumlah kematian 13,701 orang, data ini saya ambil di sini Worldometers Coronavirus. Artinya, ada 2.7 orang yang meninggal setiap jamnya karena Covid-19 di Indonesia. Pertanyaan saya, apakah angka ini mengerikan?  Jawabannya adalah relatif, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Sebagai perbandingan, menurut data dari kepolisian yang dipublikasikan oleh Kominfo, setiap jam ada 3 orang yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas Rata-rata Tiga Orang Meninggal Setiap Jam Akibat Kecelakaan Jalan. Berdasarkan data statistik, lebih mungkin bagi kita tewas di jalan karena kecelakaan lalu lintas dibanding meregang nyawa karena terinfeksi Covid-19. Akan selalu ada yang menyanggah perbandingan semacam ini karena tidak Apple to Apple, Covid-19 dan kecelakaan lalu lintas adalah dua hal yang berbeda dan tidak dapat disamakan. Ok, saya akan ambil contoh kasus yang mirip dengan Covid-19 ini, yaitu TBC. TBC adalah penyakit yang menyerang paru-paru dan disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, sama seperti Covid-19, TBC pun dapat dengan mudah menular melalui droplet dan airborne. Anda tahu berapa jumlah orang yang meninggal karena TBC di Indonesia? Di tahun 2018 saja, ada 845,000 orang yang menderita TBC dengan 92,700 kasus kematian. Dengan kata lain, ada 11 orang yang meninggal setiap jamnya di Indonesia karena penyakit ini, data ini saya ambil di sini Kasus TBC di Indonesia. Tingkat fatalitas TBC adalah 4 kali lebih mematikan dari Covid-19, itu pun kalau anda yakin Covid-19 benar-benar murni dapat membunuh orang yang sehat, bukan karena orang yang sudah sakit parah karena diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal, kanker paru-paru dll lalu dinyatakan meninggal karena Covid-19 hanya karena hasil tes swabnya positif. Pernah kah anda berpikir kenapa dunia begitu heboh dan sangat terobsesi dengan Covid-19? Jika tolok ukur sebuah penyakit dikategorikan sebagai pandemi seperti apa yang kita terapkan pada Covid-19, seharusnya dunia sudah dinyatakan darurat TBC dan lockdown di mana-mana sejak puluhan tahun lalu. Semua data yang saya sajikan di sini adalah data kredibel dari kementrian dan juga WHO yang menjadi rujukan mayoritas negara di dunia dalam penanganan Covid-19. Intinya, ada standar ganda yang sedang dimainkan, dan dunia tidak seperti apa yang kita lihat.

Kita tidak akan menyadari semua keanehan ini jika kita hanya berpatokan pada buku panduan yang diajarkan di sekolah. Untuk memahami segala keanehan yang ada, kita perlu menganalisa masalah ini dari sudut keilmuan yang lain, ilmu yang sudah lama ditinggalkan.

Butanya sebelah mata kita, seperti butanya mata Dajjal

Sedari kecil, kita sudah dibiasakan untuk menerima dua hal yang saling bertolak belakang dan “dipaksa” untuk menerima keduanya sebagai hal yang sama-sama benar. Sebagai contoh, dalam pelajaran sejarah, kita diajarkan sebuah pandangan universal di mana semua manusia berasal dari evolusi kera, dan begitu masuk ke pelajaran agama, narasinya seketika berubah menjadi semua manusia berasal dari Adam. Di dalam pelajaran agama ini juga kita diajarkan tentang seberapa buruk dan terkutuknya riba dalam pandangan agama, tetapi begitu berganti topik ke pelajaran ke ekonomi, maka hutang dan riba ini tiba-tiba berubah menjadi baik, negara perlu mencetak utang agar sistem ekonomi dapat berjalan cepat. Otak kiri untuk “kebenaran” yang satu, dan otak kanan untuk “kebenaran” lainnya. Apakah ini normal? Bagaimana bisa dua hal yang bertolak belakang bisa benar secara bersamaan? Bagi kaum yang berpikir, jika disodori dua hal yang bertentangan, maka hanya akan ada satu yang benar, dan yang lainnya pasti salah.

Masalah terbesar kita saat ini adalah kita telah kehilangan kemampuan untuk melihat dengan dua mata, sehingga apapun yang disampaikan oleh media, maka itulah “kebenarannya”, meskipun harus melukai logika berpikir kita.

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” QS. 22:46

Apa yang akan saya bahas di artikel saya kali ini, adalah analisa dan pemikiran dari sudut pandang Eskatologi Islam, sebuah ilmu yang tidak akan bisa anda beli di supermarket, ilmu ini bahkan tidak bisa anda pelajari sekalipun anda menempuh pendidikan S3 di Harvard dan Cambridge, ilmu ini hanya bisa anda pahami dengan Nur (cahaya) sehingga anda tidak lagi buta sebelah, dan setelah membaca tulisan ini, anda bahkan akan dapat membaca tulisan Ka Fa Ra di kening Dajjal. Jika analisa ini tepat, maka dalam hitungan tahun dari sekarang, anda akan dapat melihat kebenaran dan membaca tanda Ka Fa Ra di keningnya sejelas perbedaan siang dan malam, kelak ketika seorang pemuda Yahudi dengan mata lengkap dan tanpa cacat mendeklarasikan dirinya sebagai Almasih di Yerusalem (Insya Allah).

Apa hubungannya Dajjal dengan Covid-19? Untuk memahami tahun 2020 yang aneh ini, kita perlu mempelajari terlebih dahulu bagaimana dunia ini dijalankan.

Tidak ada seorang nabi pun, kecuali dia telah mengingatkan umatnya dari si buta sebelah yang pendusta (Dajjal). Ketahuilah sesungguhnya Dia buta sebelah dan sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah, di antara kedua matanya tertulis; ‘Ka-Fa-Ra’.” (HR Bukhari, No. 7131)

Sadarkah anda bahwa selama ini kita pun telah menjadi makhluk yang buta sebelah? Kita diberi panduan agama untuk menjalani hidup tapi kita lebih memilih meninggalkannya di dalam lemari hingga tebal debunya 2 inchi, lalu kita dengan polosnya dan tanpa malu malah memilih jalan hidup yang diajarkan di sekolah yang mengajarkan kita bahwa nenek moyang manusia adalah sekumpulan kera, bukan Adam, dan kita begitu nikmatnya membeli rumah dan kendaraan melalui jalan riba seakan-akan hukum asalnya telah berubah menjadi halal. Jika anda memilih jalan hidup yang demikian, maka saya tidak akan kaget kalau anda lebih percaya seorang geek komputer berbicara tentang vaksin dan medis lalu mengamininya sebagai sebuah kebenaran, meskipun di belahan bumi yang lain, ada sekumpulan dokter jujur, yang menggunakan kedua matanya untuk melihat, lalu berusaha memberi tahu manusia yang lain di seluruh dunia tentang keanehan pLandemic Covid-19, dan anda malah menganggap mereka sebagai sekumpulan orang-orang lunatik penggemar teori konspirasi yang berusaha menyebarkan hoaks. Seorang geek teknologi, lebih dipercaya untuk berbicara tentang medis dari pada sekumpulan dokter profesional yang telah puluhan tahun menangani berbagai macam penyakit, tidak kah anda merasa saat ini otak anda sudah mengalami cedera parah sehingga hal sejelas ini saja masih sulit untuk anda pahami?

Selama ini, kita terlalu asyik menghisap opium dari smartphone dan telah hidup kecanduan dengan benda ini sampai-sampai kita lupa bahwa saat ini, kita adalah generasi yang diisyaratkan dalam hadits sebagai generasi yang hidup bersama Dajjal. Al-qur’an dan Hadits tampaknya kalah menarik dibandingkan Instagram, Facebook dan TikTok.

“Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi terakhir mereka akan bersama Dajjal“ (HR. imam Thabrani)

Kenapa tidak ada ulama besar yang menyadari tentang hal ini? saya tidak tahu, tapi kalau boleh menganalisa, jawabannya mungkin karena mereka saat ini lebih suka menyibukkan diri mereka dengan bisnis sertifikat halal, demo dan Pilkada, sehingga mereka sudah terlalu lelah ketika ditanya tentang topik seberat ini, bahkan saking lelahnya, mereka sampai tidur pulas dan mendengkur.

Ali r.a. menerangkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sudah dekat jaman itu ketika Islam hanya tinggal nama, Al-qur’an hanya tinggal hurufnya, yakni tidak diamalkan lagi, masjid-masjid pada jaman itu besar secara lahiriah dan penuh pengunjungnya tapi kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk di kolong langit, dari mereka keluar segala macam fitnah, dan dari mereka bersumber segala kejahatan.” HR. Baihaqi

Dajjal telah hadir di tengah-tengah kita, kawan. Dan saat ini kita sedang hidup di fase di mana seharinya adalah sama seperti sebulan.

Dari Nawas bin Sim’an al-Kilabi ra berkata; Rasulullah Saw menyebut tentang Dajjal, sampai kita berkata, “Ya Rasulullah berapa lama dia di bumi?” Rasul menjawab, “Selama empat puluh hari, satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti seminggu, dan seluruh hari-harinya seperti hari-hari kalian.” Mereka berkata, “Pada hari itu apakah memadai bagi kami shalat seperti sekarang?” Kata Nabi, “Tidak, maka hendaknya shalat sebagaimana kadar seperti biasanya.” (HR. Muslim)

Banyak dari kita yang gagal paham tentang bagaimana seharusnya kita menafsirkan hadits tentang Dajjal, dan kesalahan terbesarnya adalah karena kita menafsirkan semua hadits ini secara harfiah, padahal Allah SWT telah mengisyaratkan bahwa ada dua jenis ayat yang harus kita bedakan, yaitu Muhkamat (ayat yang jelas dan terang-benderang) dan Mutasyabihat (memerlukan tafsir).

Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat……. (QS. 3:7)

Dan jika anda masih bersikeras bahwa semua hadits tentang akhir zaman ini bukanlah ayat Mutasyabihat sehingga tidak memerlukan tafsir khusus, maka anda perlu menunggu munculnya seekor keledai putih yang memiliki lebar telinga 20 meter dan benar-benar bisa terbang serta mengeluarkan asap ketika kelak ditunggangi Dajjal sebagai kendaraannya keliling dunia.

Ia memiliki keledai yang ditungganginya, lebar antara dua telinganya 40 hasta. (HR Ahmad dalam l Musnad, dan Hakim dalam al-Mustadrok). Keledai putih itu memiliki kekuatan satu langkahnya sama dengan satu mil jaraknya. Keledai tersebut memakan api dan menghembus asap, dapat terbang di atas daratan dan menyeberangi lautan. Kecepatannya seperti awan ditiup oleh angin dan bumi berputar terasa lebih cepat ketika ia berada diangkasa. “Bumi akan digulung untuknya; ia menggenggam awan di tangan kanannya, dan mendahului matahari di tempat terbenamnya; lautan hanya sedalam mata kakinya; di depannya adalah gunung yang penuh asap.” (Kanzul-‘Ummal, jilid VII, halaman 2998).

Saya adalah satu dari sedikit orang yang fokus mempelajari eskatologi (ilmu akhir zaman) dalam sudut pandang islam, dan kami sebagai pembelajar eskatologi islam meyakini bahwa keledai putih yang bisa terbang, yang kelak akan ditunggangi Dajjal adalah kendaraan yang saat ini kita sebut pesawat!

Implikasi dari semua ini, maka kami pun meyakini bahwa hadits tentang perjalanan Dajjal sema 40 hari di bumi, butanya mata kanan Dajjal, serta tulisan Kafir di keningnya, semua adalah petunjuk yang tidak boleh kita artikan secara harfiah. ……“Selama empat puluh hari, satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan,satu hari seperti seminggu, dan seluruh hari-harinya seperti hari-hari kalian.”….. Kami meyakini bahwa hadits ini memberi petunjuk mengenai Dajjal akan menguasai dunia dalam 3 masa (hanya Allah SWT yang tahu tafsir sebenarnya). Perhatikan hadits yang sangat panjang ini dari riwayat Tamim Ad-Dari:

Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-shalatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya maka beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat shalatnya.’ Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Allah-, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.

Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru mengatakan): ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada rumah ibadah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim mengatakan: ‘Ketika dia menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khawatir kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan: ‘Maka kami pun bergerak menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu. Ternyata di dalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Kalian telah mampu mengetahui tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami ini orang-orang dari Arab. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun naik perahu kecil, lalu memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya. Tidak diketahui mana qubul-nya dan mana duburnya karena lebatnya rambut. Kamipun mengatakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Kamipun bertanya lagi: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia malah menjawab, pergilah ke rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian. Maka kami pun segera menujumu dan kami takut dari binatang itu. Kami tidak merasa aman kalau ternyata ia adalah setan.’

Lalu orang itu mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan.’

Kami mengatakan: ‘Tentang apanya engkau meminta beritanya?’

‘Aku bertanya kepada kalian tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya.

Kami menjawab: ‘Ya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir ia tidak akan mengeluarkan buahnya. Kabarkan kepadaku tentang danau Thabariyyah.’

Kami jawab: ‘Tentang apa engkau meminta beritanya?’

‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya.

Mereka menjawab: ‘Danau itu banyak airnya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar.’

Mereka mengatakan: ‘Tentang apanya kamu minta berita?’

‘Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya.

Kami katakan: ‘Ya, mata air itu deras airnya dan penduduknya bertani dengannya.’ Ia mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang Nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’

Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’

Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’

Kami menjawab: ‘Ya.’

Ia mengatakan lagi: ‘Apa yang dia lakukan terhadap orang-orang Arab?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang Arab di sekitarnya dan mereka taat kepadanya.

Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’

Kami katakan: ‘Ya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak ku tinggalkan satu negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Thaibah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah satunya, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangannya, menghalangiku darinya. Dan sesungguhnya pada setiap celahnya (dua kota itu) ada para malaikat yang menjaganya.’

Kami meyakini, dan tentunya hanya Allah SWT yang mengetahui kebenerannya, bahwa kisah Tamim Ad-Dari ini adalah tanda sudah dekatnya manusia dengan masa di mana Dajjal akan berkeliling dunia dan menyebarkan pengaruhnya di mana seharinya dia adalah sama seperti satu tahun. Dari mana kami membuat kesimpulan semacam ini?

….. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. QS. 22:47

Kita perlu memahami perbedaan dimensi ruang dan waktu dari tiga periode hari-harinya Dajjal yang seperti setahun, sebulan dan seminggu untuk menarik benang merah dan menjelaskan segala keanehan yang terjadi di dalam dunia modern yang saat ini kita jalani. Ada keterikatan yang sangat erat antara Inggris, Amerika dan Israel. Sebelum berdirinya Israel, cukup sulit membayangkan bagaimana skenario perang akhir zaman akan berlangsung antara umat Islam dengan Yahudi. Betapa tidak, selama dua ribu tahun, orang Yahudi tersebar di banyak tempat. Mereka menjadi kaum yang tak punya ‘rumah’. Dari sisi politik, agama Yahudi pun tak didukung kekuatan besar, seperti halnya Islam dan Kristen. Pendek kata, kaum ini tidaklah diperhitungkan. Tapi, di penghujung 1800-an, sejarah berjalan cepat. Sebuah gerakan bernama Zionisme, muncul ke permukaan sejarah, dan merancang pendirian sebuah rumah bagi kaum Yahudi di Yerusalem yang saat itu masih berada di bawah Kekaisaran Ottoman.

Sejak 1882 gerakan Zionis ini berulang kali memobilisasi kaum Yahudi dari berbagai negara, terutama Eropa, untuk kembali ke Yerusalem, dan mengklaim tanah ini sebagai milik mereka. Lewat Deklarasi Balfour, Inggris pun berjanji membantu pendirian negara Yahudi itu. Inggris kemudian mengalahkan tentara Utsmani, dan memasuki Tanah Suci pada 1917. Pada 14 Mei 1948, negara Yahudi pun diproklamasikan oleh David ben Gurion, yang kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel. Negeri yang baru berdiri itu, dengan segera unjuk gigi. Umat Yahudi meyakini restorasi Israel —setelah dua ribu tahun Kerajaan Israel dihancurkan— merupakan satu dari tujuh tanda kehadiran Hamashiach, itu adalah bahasa Ibrani dari al-Masih atau Messiah. Tapi, al-Masih yang mereka tunggu bukanlah kedatangan Nabi Isa al-Masih, sebagaimana keyakinan Islam dan Kristen. Mereka menunggu Messiah yang lain. Alkitab menyebutnya sebagai Anti Kristus (The Anticrhist), dan umat Muslim lebih mengenalnya dengan sebutan Al-Masih Ad-Dajjal.

Kami meyakini bahwa periode pertama ketika Dajjal mengelilingi dunia adalah ketika Inggris menguasai dunia dan secara De Facto menjadi negara super power saat itu, kami menyebutkan sebagai Pax Britanica. Sehingga bukan kebetulan bahwa Bank of England, sebuah bank sentral terbesar yang mulanya dimiliki swasta, mengenalkan konsep penjajahan modern melalui riba yang sampai saat ini tumbuh sangat subur di seluruh dunia, dan mereka juga berkuasa penuh atas keuangan dunia selama ratusan tahun melalui Poundsterlingnya. Bukan kebetulan juga kalau Inggris melalui revolusi industrinya mengubah pola hidup manusia di dunia masuk ke dalam gaya hidup yang sama sekali berbeda dengan konsep industri dan mesin produksinya.

Selepas PD I, poros kekuatan dunia tiba-tiba berubah menjadi Amerika Sentris, segala atribut negara super power seperti Militer, Ekonomi dan budaya seketika pindah dari Inggris ke Amerika, Pax Britanica ditinggalkan dan beralih ke Pax Americana. Secara De Facto, Amerika adalah penguasa dunia melalui media, militer serta sistem keuangan dengan hegemoni USD-nya. Tetapi jika anda cukup jeli, anda akan menyadari bahwa hari-hari Dajjal yang satu harinya seperti sebulan ini, sekarang sudah menjelang selesai dan akan berganti menjadi satu harinya sama dengan seminggu.

Normalisasi hubungan Israel dengan tetangga Arabnya dan pindahnya Ibu Kota Israel dari Tel-Aviv ke yerusalem bukan lah sebuah peristiwa politik biasa, ini adalah satu tanda peristiwa besar yang hanya akan kita saksikan satu kali seumur hidup kita. Tetapi berhubung tulisan kali ini sudah sangat panjang, saya harus akhiri bagian pertama ini, dan insya Allah akan disambung dengan bagian kedua di minggu depan.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, silakan ikuti baik-baik berita pilpres di Amerika, jangan kaget jika pemilu mereka kali ini akan berakhir dengan kekacauan dan kerusuhan, biar bagaimanapun, Amerika perlu dihancurkan dari dalam untuk membuka pintu peralihan kekuasaan dunia yang baru, Pax Americana berganti menjadi Pax Judaica. Wallahua’lam

Categories
Uncategorized

Covid-19 dan The Great Depression 2.0

AR-200309982

Virus Corona atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Covid-19, mendadak menjadi berita utama di berbagai media mainstream di semua negara di dunia sejak tiga bulan terakhir, termasuk Indonesia. Virus yang mulai menyebar di Kota Wuhan, China sejak Desember 2019 ini, seolah menjadi akar masalah semua kekacauan yang terjadi di dunia karena dampak yang ditimbulkan begitu masif, sekolah dan universitas diliburkan, pabrik dan perkantoran berhenti beraktivitas, pasar dan lalu lintas mendadak sepi, tempat wisata, restoran dan hotel kehilangan pengunjung, hingga kacaunya bursa saham di seluruh dunia karena kepanikan yang ditimbulkan oleh virus patogen yang hanya berukuran sekitar 0.2 mikron ini. Pertanyaannya, apakah benar semua kekacauan yang terjadi murni bersumber dari virus kecil ini? Jika kita mau jujur, jauh sebelum Covid-19 merebak, dunia sebetulnya sudah berada di ambang letusan bubble terbesar sepanjang sejarah peradaban umat manusia, ekonomi yang dibangun dari tumpukan utang dalam sistem bunga-berbunga tidak lebih dari sekumpulan orang yang sedang meniup balon raksasa sekuat tenaga, dan hanya perlu satu jarum kecil untuk meledakkannya dan membuat semua yang ada di sekitar balon ini porak poranda. Untuk dapat mengerti apa yang sekarang sedang terjadi, ada baiknya anda membaca terlebih dahulu tulisan saya di Ilmu yang Jujur agar lebih mudah memahami apa yang akan saya jabarkan dari tulisan panjang dan berat yang akan anda baca ini. Selanjutnya, kita juga harus flash back ke tahun 2007-2009, tahun di mana dunia mengalami apa yang dinamakan The Great Recession, tanpa mempelajari hal ini, mustahil untuk memahami akar masalah dari semua kekacauan yang akan terjadi beberapa bulan ke depan.

index

Jika saya bertanya kepada keponakan saya yang masih kelas 5 SD tentang bagaimana caranya menghilangkan masalah yang ditimbulkan karena utang, maka jawabannya sangat sederhana, yaitu dengan melunasinya dan jangan hidup dengan berhutang lagi, hiduplah sesuai kemampuan! Tidak perlu gelar S3 atau PhD dari Harvard University untuk menjawab pertanyaan ini, tapi jika anda menanyakan pertanyaan yang sama kepada gubernur bank sentral dan menteri ekonomi, anda akan mendapatkan jawaban alternatif yang cukup menguras keringat karena begitu rumitnya jawaban yang mereka siapkan, mulai dari melakukan bail out, pemangkasan pajak, stimulus fiskal, pelonggaran moneter dan seabrek istilah rumit lainnya yang sulit dimengerti oleh orang awam kebanyakan, dan ujung pangkal dari solusi yang mereka tawarkan hanya mengarah kepada satu muara yang sama, yaitu melunasi utang sebelumnya dengan cara mencetak utang baru dengan jumlah yang lebih besar. Ya betul, membayar utang lama dengan utang baru agar sistem tidak kolaps. Rupanya anak SD lebih pintar dari mereka yang menjabat sebagai gubernur bank sentral atau bahkan menteri ekonomi yang pernah menjadi direktur di bank dunia itu.

The Great Recession 2008

Domino krisis tahun 2008, yang dimulai dari bangkrutnya bank investasi AS Lehman Brothers yang sudah berusia satu setengah abad itu, menjalar ke seluruh sistem keuangan Eropa dan Asia, banyak pelaku usaha yang mulai kesulitan mencari sumber pendanaan karena mengeringnya likuiditas di pasar, dan efek dominonya ternyata langsung memukul sektor konsumsi di negara-negara maju sehingga pabrik di negara-negara berkembang yang mengandalkan upah murah untuk memproduksi barang mulai kesulitan mendapat PO karena lesunya sektor konsumsi, ekspor tiarap, penjualan rumah dan otomotif menjadi mandek, banyak pabrik dan perusahaan yang akhirnya mulai mengurangi jumlah karyawannya atau bahkan langsung menutup usahanya. Untuk mengatasi ini, tiga bank sentral utama di dunia, yaitu BoJ di Jepang, ECB di Eropa, dan The Fed di AS  melakukan hal konyol secara bersamaan, mereka menyalakan mesin pencetak uang masing-masing dengan kecepatan penuh untuk membanjiri pasar dengan kredit murah atau yang biasa disebut dengan QE, dunia yang sudah hampir tenggelam dalam kubangan hutang, diberi utangan lagi dengan dosis puluhan kali lebih besar, dan kredit murah ini akhirnya luber ke negara-negara berkembang yang suku bunga acuannya masih tinggi sehingga memicu bubble di mana-mana, harga rumah naik drastis ratusan persen hanya dalam hitungan tahun, bursa saham mencetak valuasi tertinggi sepanjang masa, dan surat utang dengan mudah dicetak seenak udel pemerintah. Tanpa perlu gelar magister ekonomi, nenek saya pun tahu bahwa meminjam uang dengan bunga 0% lalu meminjamkannya ke pihak lain dengan bunga 7-8% akan memberikan kepastian pendapatan rutin tanpa perlu susah payah bekerja keras menguras keringat, cukup ongkang-ongkang kaki di rumah sambil makan pisang goreng, dan penghasilan pun datang dengan sendirinya. Para trader di negara-negara maju saat itu, melakukan persis seperti logika sederhana ini. Dampaknya, bursa saham dan pasar surat utang yang sempat nyungsep di tahun 2008, kemudian bangkit dari kubur dan mencetak pertumbuhan tahunan secara eksponensial. Indonesia kebanjiran likuiditas, negara-negara penghasil komoditas seperti Brazil, Afsel, Australia dan Rusia kebanjiran PO bahan baku yang memicu bubble spekulasi di mana-mana, proyek-proyek absurd yang dibangun dengan utang seperti duplikat menara eiffel di tengah ladang jagung seperti yang terjadi di Cina ini muncul di mana-mana.

tianducheng-zhejiang-china-eiffel-ghost-city

Kosong tanpa penghuni

kenaikan harga-harga selama masa inflationary ini jauh di atas pertumbuhan ekonomi riil negara mana pun di dunia. Akan tetapi, bubble ekonomi yang dimotori oleh uang panas dari gelontoran kredit bank sentral cepat atau lambat pasti dan harus meletus, atau setidaknya kempes secara perlahan agar ekonomi kembali seimbang, tidak ada seorang pun yang bisa meniup balon sebesar-besarnya tanpa diakhiri dengan ledakan dari balon itu sendiri, tidak akan pernah.

Dan setelah rally pertumbuhan ekonomi selama 11 tahun tanpa terputus, akhirnya ekonomi yang dimotori oleh spekulasi dan utang ini harus terbangun karena terjatuh dari Kasur empuknya, dan jatuhnya pun tidak main-main, terjun bebas dari ketinggian 30.000 kaki tanpa parasut sama sekali! bisa dibayangkan sakitnya seperti apa? Para pelaku pasar yang sudah nyaman mendapatkan penghasilan untuk hidup dari berspekulasi, sibuk berenang mencari tempat yang lebih liquid karena danau hutang tempat mereka berenang-renang sebelumnya mulai membeku dengan kecepatan tinggi. Mereka akhirnya kompak menyalahkan kambing hitam yang bukan kambing, yaitu virus! Semua gara-gara corona, ekonomi menjadi turun dan dunia usaha menjadi suram. Yang jadi pertanyaan, apa iya semua gara-gara virus ini? Mari kita tengok data-data riil agar semuanya menjadi lebih objektif.

Sebelum pemberitaan terkait virus ini muncul di awal 2020, ekonomi dunia sebetulnya sudah menunjukkan tanda-tanda ngos-ngosan setelah lari maraton 10 tahun, pasar properti lesu, otomotif nyungsep, dan pertumbuhan ekonomi di banyak negara maju sudah mulai menunjukkan tanda merah. Penjualan di sektor otomotif sudah dalam tren menurun jauh sebelum virus corona muncul, link nya bisa anda baca sendiri di penjualan mobil di indonesia turun 10.8% dan di sini US automobile plummet in 2019, sektor perumahan juga tidak lebih baik US housing market crash is Inevitable, dan pengiriman barang secara global terus menurun yang menunjukkan tanda-tanda ekonomi semakin lesu global shipmet in rapid decline. Artinya, tanpa virus pun, ekonomi global sedang berada di ambang kejatuhan, dan virus ini bukan sebagai penyebab dari kejatuhan pasar, melainkan sebagai katalis yang fungsinya mempercepat kejatuhan ekonomi global. Tetapi jika anda menanyakan hal ini kepada pemerintah, mereka tentu saja akan berkelit, mereka lebih suka mencari kambing hitam dari semua kekacauan yang mereka buat, biar bagaimana pun, citra mereka di mata rakyatnya harus tetap terjaga.

Masa Penghakiman

Seberapa pun indahnya mimpi, suatu saat kita tetap harus bangun dari tidur nyenyak kita dan menjalani realita hidup yang seringkali tidak seindah mimpi di siang bolong. Dunia yang dibangun dari tumpukkan USD yang sudah tidak diback-up emas lagi sejak tahun 1971, atau semenjak kotak pandora dibuka oleh Richard Nixon yang menandai akhir dari era emas sebagai mata uang, maka dunia praktis memasuki babak baru yang tidak pernah dimasuki manusia manapun sebelumnya. Uang kertas yang kita gunakan saat ini tidak lagi dijamin emas, melainkan tumpukan surat utang yang jaminannya pun tidak ada kecuali janji untuk menarik pajak dengan lebih rajin dari pemerintah selaku pemegang kekuasaan.

Dan di bulan maret 2020, bubble ekonomi terbesar sepanjang sejarah ini akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Bursa saham di New York, DJIA rontok lebih dari 31% dari posisi tertingginnya di bulan Februari 2020:

djia

DAX Jerman nyungsep 34%

dax

Nikkei di Jepang Ambrol 28%

nikkei 225

  Hangseng di hongkong terjun bebas 20%

hangseng

bagaimana dengan IHSG di Jakarta? Sami mawon, jatuh tersungkur 31% dari puncaknya di bulan Maret 2019

ihsg

Puluhan Trilyun USD hasil tiupan bubble selama 11 tahun lenyap dalam hitungan minggu. Untuk menangkal krisis ini, semua pemerintah dan bank sentral di berbagai dunia melakukan paduan suara yang sama, yaitu menggelontorkan likuiditas besar-besaran untuk menangkal kejatuhan lebih dalam. Anggaran yang dalam masa normal saja sudah defisit, perlu diperlebar lebih dalam lagi agar gelembung bubble tidak meletus, dengan harapan utang ini dapat dicicil kembali nanti saat kepanikan mereda, siapa yang membayarnya? Tentu saja anda para pembayar pajak. Ingat, di masa kita hidup saat ini, pemerintah bukanlah institusi produktif yang menghasilkan uang, mereka hanya sekumpulan parasit yang menghisap kemakmuran di masyarakat yang masih produktif untuk menopang hidup sistem ekonomi bunga-berbunga agar tetap tumbuh secara eksponensial dan juga untuk menopang kehidupan mewah mereka sendiri. Coba anda pikirkan, jika mereka betul-betul peduli dengan rakyat yang mereka pajaki, hal yang akan mereka lakukan pertama kali untuk mengurangi defisit anggaran adalah dengan memotong gaji dan tunjangan mereka sendiri di mana standar hidup mereka saat ini bisa puluhan kali lebih tinggi dari penghasilan per kapita rakyat yang mereka pajaki. Pertanyaannya, apakah mereka mau? Silakan jawab sendiri. Masalah kedua adalah, gelontoran kredit murah yang digelontorkan bank sentral dan pemerintah lewat bazookanya tidak akan melenyapkan virus yang menjadi katalis percepatan kejatuhan bursa saham dan surat utang. Ini hanya akan memperburuk keadaan, tanpa produksi yang distop karena lockdown, tidak akan ada pabrik yang beroperasi, dan tidak akan ada barang yang bisa dikirim ke tangan konsumen yang ingin membelinya, tumpukan uang kertas ini tidak akan lebih berharga dari kertas toilet kelak di masa puncak krisis yang sebentar lagi hadir.

Saya akan berikan anda contoh sederhana:Daging ayam yang anda konsumsi, kelihatannya murni diproduksi secara lokal, tetapi jika anda pelajari lebih detil, anda akan mendapati bahwa Indonesia sangat bergantung dengan impor. Grandparent Stock sebagai penghasil bibit ayam perlu diimpor dari US dan Perancis, MBM, gandum dan bungkil kedelai sebagai bahan baku pakannya diimpor dari Australia, Argentina dan US, tanpa impor, industri peternakan ayam akan kolaps, dan sistem rantai pasokan yang sama terjadi juga di semua bidang industri, entah itu otomotif, listrik, elektronik, properti, infrastruktur, makanan dll, dunia perlu saling terhubung agar rantai pasokan produksi tidak terputus. Sekarang, jika banyak negara melakukan lockdown secara bersamaan, siapa yang akan menyuplai bahan baku industri ini? apakah gelontoran uang kertas dari Bank Sentral akan membuat pabrik kembali beroperasi? saya akan biarkan anda sendiri yang menjawab pertanyaan ini. Di masa sulit ini, jangan berharap pemerintah anda akan membantu menyelesaikan masalah anda, karena keberadaan mereka hanya akan menambah masalah anda yang sudah pelik. Contoh kasusnya seperti yang ini IHSG rentan, wamen bumn dorong dapen taspen masuk ke pasar

Di saat trader berlomba mencari jalan keluar dari pasar saham yang kebakaran, pemerintah malah mendorong ratusan trilyun uang yang seharusnya masih bisa diselamatkan untuk masuk pasar, dan berspekulasi seolah pasar akan tenang dengan gelontoran uang ini. Mereka tentu saja tidak akan khawatir kehilangan uang ini karena uang ini bukan milik mereka, dana ini adalah dana pensiun kita yang mereka korbankan untuk memadamkan kebakaran di bursa saham, sambil berdoa syukur-syukur valuasi sahamnya akan naik beberapa bulan ke depan, saya tidak tahu apakah doa orang-orang ini akan dikabulkan, tapi saya berani bertaruh, perilaku mereka ini akan mereka bayar mahal di akhirat kelak. Jika rencana ini gagal, ya tinggal tarik utang lagi dengan dalih stimulus fiskal, toh yang membayar bunga utang ini juga bukan mereka, tetapi anda sendiri selaku pembayar pajak.

rupiah

Rupiah yang terdepresiasi dengan kecepatan penuh

Sebagai gambaran, BI memiliki cadangan devisa sekitar 130-an Milyar USD sebagai bantalan jika sewaktu-waktu terjadi krisis, sedangkan kepemilikan asing di bursa saham dan surat utang di Indonesia saat ini ada sekitar 350 Milyar USD. 130 Milyar VS 350 Milyar? anda bisa tebak siapa yang akan babak belur duluan? asumsi saya ini tentu hanya berdasarkan perhitungan di mana hanya terjadi kepanikan pada investor asing, tapi jika investor domestik ikut-ikutan panik, maka akselerasi krisis tentu saja akan semakin cepat. Jadi, sekarang anda sudah dapat membuat kesimpulan, apakah investor asing di pasar surat utang dan saham ini termasuk madu yang manis nan bermanfaat, atau hanya tuak yang memabukkan.

Krisis ekonomi yang akan datang adalah masa yang hanya akan terjadi sekali sepanjang hidup manusia, situasi yang paling mirip adalah The Great Depression 1930-an, itu pun tidak persis-persis amat, ini karena uang di masa itu masih diback-up dengan emas, sedangkan di masa kita hidup sekarang, uang kertas ini dapat dicetak hanya dengan mengetikkan angka-angka ilusi di depan komputer. Artinya, skala krisis ini akan jauuuuuuh (saya harus tambahkan banyak u untuk menuliskan kata jauh di sini karena saya perlu menggambarkan betapa buruknya krisis ini kelak) lebih buruk dari apa yang terjadi di 1930-an yang menjadi pembuka awal Perang Dunia II. Permulaan krisis sudah mulai nampak di beberapa wilayah, seperti yang terjadi di US Poll: Nearly 1 In 5 Households Have Lost Work Because Of Pandemic

Kita sedang berada di fase awal krisis, tanpa adanya penumpang, dari mana maskapai membayar pegawainya? tanpa ada produksi, bagaimana pabrik dapat menghasilkan barang untuk dijual? tanpa ada wisatawan, bagaimana hotel, restoran, tempat rekreasi dapat membayar karyawannya? pemerintah bisa saja membagi-bagikan setumpuk uang secara cuma-cuma kepada masyarakatnya dengan tujuan meningkatkan konsumsi, tetapi dalam prinsip ekonomi, supply and demand harus seimbang, jika demand lebih besar dari supply, maka yang terjadi selanjutnya adalah kenaikan harga, dan hal ini telah terjadi dengan hand sanitizer, masker, gula, bawang bombay dan bawang putih. daftar kelangkaan barang ini akan bertambah banyak seiring dengan semakin banyaknya produksi yang berhenti.

Ilmu Agama yang Dilupakan

Sebagai penutup, saya ingin membagikan kepada anda beberapa hadits yang mungkin akan berguna, sebagai panduan dan petunjuk di masa apa kita hidup sekarang.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “Akan tiba suatu zaman, tidak ada seorang pun kecuali dia terlibat dalam memakan harta riba. Kalau dia tidak memakannya secara langsung, dia akan terkena debunya “(HR Ibnu Majah)

Dari Abu Said berkata : Rasulullah SAW bersabda : Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim)”. (H.R. Bukhari)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Dia mengatakan, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam “Telah hampir tiba suatu zaman, di mana tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada lagi dari AlQuran kecuali hanya tulisannya. Masjidmasjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahatjahat makhluk yang ada di bawah langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka jua fitnah itu akan kembali “(HR AlBaihaqi)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu anhu. Dia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mencabut (menghilangkan) ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah SWT menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila telah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orangorang jahil sebagai pemimpinnya. Ketika pemimpin yang jahil itu ditanyakan, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain” (HR Muslim)

Prediksi saya mungkin bisa salah, tapi kejujuran saya bisa dijamin. Jika analisis dan prediksi saya salah, itu bukan karena saya sengaja ingin menipu anda, melainkan karena itu adalah bukti bahwa saya hanyalah manusia biasa yang bisa salah. Setidaknya, saya telah berusaha memberikan apa yang saya tahu kepada para pembaca blog ini, dan informasi yang saya berikan ini seluruhnya saya bagikan secara gratis. Saya memiliki ilmu dan informasi yang mungkin berguna untuk banyak orang, dan saya tidak ingin ilmu ini ikut terkubur bersama jasad saya nanti tanpa pernah ada manfaat yang dirasakan oleh manusia lainnya.

Categories
Uncategorized

Hari Perhitungan

Beberapa minggu ini, akselerasi dari lanjutan krisis global mulai meningkatkan temponya. Setelah Turki dan Argentina, Afrika Selatan mulai masuk pemberitaan media-media mainstream, negara dengan perekonomian terbesar di benua afrika ini sudah dua kuartal berturut-turut kontraksi Resesi Afsel. Di Asia, India juga mulai menunjukkan kinerja yang suram, tanggal 4 September Rupee mencatat nilai terendah sepanjang sejarah, beritanya bisa dilihat di sini Rupee tersungkur. Bagi anda yang belum membaca tulisan saya sebelumnya, saya sarankan untuk membacanya di part 1 part 2 part 3 agar dapat lebih memahami tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kondisi dunia saat ini dan tahun-tahun ke depan.

Dunia yang saling terhubung

Zaman yang kita tinggali saat ini, sudah berbeda dengan zaman kakek buyut kita hidup 150 tahun yang lalu, di era ini, semua negara dan manusia sudah saling terkoneksi satu sama lain, apa yang terjadi di barat, akan terasa juga dampaknya di timur, begitupun sebaliknya.

Pernahkah anda mencari tahu bagaimana sabun yang anda gunakan untuk mandi diproduksi? Atau listrik, bagaimana PLN menciptakan listrik sehingga kita bisa menyalakan AC agar tidak kepanasan, atau memutar mesin-mesin di pabrik agar bisa terus berproduksi untuk memasok kebutuhan kita sehari-hari, dari mana datangnya listrik PLN?

Untuk meyajikan sepotong ayam yang anda makan, diperlukan kerja keras peternak, pabrik pakan, sopir truk, tukang jagal, dan pedagang pasar dalam rantai pasokannya, dari sana kita masih bisa pecah lagi rantai pasokan ini menjadi beberapa bagian, katakan lah pabrik pakan, dari mana pembuatan pakan ini dimulai? Sebelum bahan pembuatan pakan digiling menjadi satu, pabrik harus mendatangkan tepung daging dari Amerika dan Selandia Baru, bungkil kedelai dari Argentina, Gandum dari Australia dan Eropa. Ketika bahan pembuat pakan ini masuk ke pabrik, perusahaan perlu membayar karyawan untuk menjalankan mesin-mesin produksinya, setelah mesin produksi ini bekerja dan karyawan mendapat gajinya, uang mereka akan berputar kembali di masyarakat sekitar mereka, toko pakaian, tukang beras, kredit motor dan rumah semua saling terkait dalam rantai pasokan yang sangat panjang ini. Bayangkan, berapa banyak aktivitas yang saling terhubung dari industri-industri lainnya yang ada di seluruh dunia. Barang yang kita gunakan tidak tercipta dengan trik sulap, semua dibuat dari rantai pasokan yang sangat panjang. Dari paha ayam yang anda makan di KFC, ada usaha orang Argentina, Amerika, Eropa, Australia dan Selandia Baru untuk mnyuplainya, dan semua ini perlu uang! uang kertas yang kita gunakan saat ini, tercipta dan hanya boleh tercipta dari kredit, untuk menjaga agar suplai uang ini terus ada, kita dan anak cucu kita harus terus bergantian mengajukan kredit baru. Tanpa suplai uang, semua aktivitas yang saya sebutkan di atas akan lenyap.

USD sebagai mata uang dunia

one-dollar-bill-146231276286X

Semenjak perjanjian Bretton Woods ditanda-tangani, Dolar Amerika secara de facto adalah alat pembayaran dari mayoritas perdagangan dunia. Mau anda menghujat dan memboikot Amerika sekeras apa pun, faktanya, saat ini mayoritas penduduk dunia menggunakan USD sebagai alat ukur perdagangan dan harga-harga komoditas. Minyak, emas, barang tambang dan cadangan devisa negara-negara dunia, mayoritas adalah dalam dolar. Tempe goreng dan tahu isi yang anda makan di penjual gorengan, kelihatannya lokal dan anda membelinya dengan rupiah, tapi bahan baku terigu dan kedelai untuk pembuatan makanan ini diimpor dan dibayar dengan dolar, bukan rupiah. Daging ayam, telur, gula, beras, bensin, listrik dan banyak lagi komoditas lainnya, semua memerlukan dolar dalam rantai pasokannya, baik langsung maupun tidak langsung. Jadi jika pemerintah mengatakan kenaikan dolar tidak akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perdagangan dalam negeri, kelak anda semua akan tahu siapa yang sebenarnya berbohong, pemerintah atau saya.

Ingat baik-baik prinsip penciptaan uang, uang = kredit, tanpa kredit, tidak akan ada uang. Dalam penciptaan USD, rakyat dan pemerintah Amerika lah yang berperan sebagai debitur untuk pengajuan pencetakan uang ini. Anda, saya, dan orang-orang yang tidak memiliki paspor Amerika tidak bisa meminta The Fed untuk mencetak dolar baru, satu-satunya pinjaman yang bisa dilakukan adalah dengan meminjam USD yang sudah beredar di pasar, bukan fresh from the Fed’s oven.

Yang jadi masalah, saat ini konsumen di Amerika (rakyat dan pemerintah US) sudah berada di masa di mana mereka sudah tidak sanggup lagi mengajukan kredit baru, keinginan untuk terus berutang mungkin masih ada, tapi kemampuan untuk membayarnya yang sudah tidak ada. Cina, India, Eropa dan Indonesia, yang meskipun punya utang dalam US dolar, tidak punya hak untuk menggantikan peran mereka dalam penciptaan uang dolar yang baru karena hak istimewa ini hanya dimiliki oleh rakyat dan pemerintah Amerika. Kita meminjam uang yang tidak bisa kita kuasai penciptaannya, solusi yang kita gunakan adalah masalah, itu sebabnya kita sudah mendapatkan masalah sejak awal sistem ini dijalankan.

Tahun 2007, utang negara-negara emerging market adalah 21 trilyun dolar, dan 10 tahun kemudian utang mereka meroket menjadi 63 trliyun dolar emerging market debt. Indonesia, India, Turki, Argentina dan sejumlah negara berkembang lainnya meminjam sejumlah besar dolar untuk membangun infrastruktur, membiayai defisit APBN dan juga sejumlah utang swasta. Uang yang mereka pinjam ini, tidak akan terus beredar selamanya tanpa perlu dilunasi, pada saat kreditur menagih pelunasan utangnya kelak, uang-uang yang mereka pinjam ini harus dikembalikan beserta bunganya, di sinilah masalahnya. Ketika kita semua meminjam uang dalam bentuk dolar, kita hanya diberi utang pokoknya, sedangkan bunga pinjaman tidak pernah dicetak dan diedarkan oleh kreditur.

Perumpamaan sederhananya, misal pemerintah meminjam 100 juta dolar kepada bank dunia untuk membangun jalan tol trans sumatera, dan bunga yang dikenakan sebesar 1%, maka di masa jatuh temponya kelak, uang yang harus dikembalikan oleh pemerintah adalah 101 juta dolar, yang jadi masalah, dari mana pemerintah mendapatkan 1 juta dolar yang lain untuk membayar bunga sedangkan uang yang diedarkan hanya 100 juta? Pemerintah akan berdalih bahwa dengan jalan tol ini, ekspor akan naik dan pendapatan meningkat, kelak akan ada cukup dolar untuk membayar utang beserta bunganya, ini adalah dalih, karena faktanya pendapatan pemerintah sebagian besar dalam rupiah, bukan dolar. Utang Yen dibayar Yen, Euro dibayar Euro, dan USD dibayar USD, Jepang, Eropa, dan Amerika tidak akan mau uang yang kita pinjam dibayar dengan rupiah. Pernah lihat utang pemerintah turun? Beri tahu saya sejarah kapan dan bagaimana total utang ini bisa turun, anda tidak akan pernah menemukannya, tidak akan pernah. Semua negara-negara di dunia mempraktekkan sistem ini, dan sekalipun pada akhirnya Indonesia katakanlah suatu saat nanti benar-benar memiliki neraca pembayaran yang surplus, makan akan ada negara lain yang memiliki neraca pembayaran yang minus, jika bukan Indonesia yang bangkrut, negara lain yang harus bangkrut agar kita memiliki kelebihan dolar untuk pembayaran bunga utang.

Goldmine_cartoon

Subprime mortgage

Pasca krisis keuangan global tahun 2008 yang lalu, media memberitakan bahwa ternyata pemerintah Yunani memiliki hutang yang jauh lebih banyak daripada yang mereka akui secara formal sebelumnya, dan tak lama kemudian, satu per satu negara lain pun ketahuan melakukan teknik penyembunyian hutang yang sama. Italia, Spanyol, Dubai, dan sederet negara atau wilayah lainnya kompak melakukan hal serupa. Persamaan di antara mereka adalah teryata pemerintah mereka sempat ber”konsultasi” dengan Goldman Sachs mengenai teknik menyembunyikan hutang. Ayam bertanya kepada serigala bagaimana menggemukkan ayam.

Dalam debt based money system, hal terpenting mengenai pemerintah yang harus anda pahami adalah:

Pemerintah pada dasarnya tidak punya uang!

Awalnya, mereka adalah sebuah institusi di mana mereka mengambil uang dari kantong A (Rakyat) untuk dimasukkan ke kantong B (APBN) demi tujuan-tujuan yang disetujui oleh A dan B. Angin surga semacam pajak untuk pembangunan akan disetujui oleh siapapun juga, bukan begitu? Tapi, saat skala masyarakat dan pemerintah sudah berkembang sedemikian besar, dan komunikasi antara mereka dengan rakyat sudah tidak mungkin lagi dilakukan, maka uang dari kantong A tidak lagi harus masuk ke kantong B dengan seizin A + B. Pemerintah, sebagai pihak tengah, sekarang menjadi pihak yang mengambil keputusan, dan pengelolaan anggaran ini pun sudah diluar kendali rakyat, padahal mereka lah yang berkontribusi pada pembayaran dana untuk menajalankan roda pemerintahan.

Puluhan tahun negara barat mengajarkan kepada seluruh dunia bahwa defisit APBN tidak ada salahnya, defisit 2-3% dari GDP adalah kecil dan tidak signifikan. Indonesia pun berkiblat pada mazhab ini, gali lubang tutup lubang telah menjadi tradisi dalam penyusunan APBN dari tahun ke tahun. Kosakata populer Debt to GDP ratio atau rasio hutang terhadap PDB pada dasarnya adalah omong kosong politisi, dikarang sedemikian rupa agar statistik kondisi keuangan negara bisa tampak lebih baik dan hutang pemerintah bisa terus diperbesar. Jangan lupa, pemerintah tidak menghasilkan uang, Jadi yang membayar utang adalah rakyat yang mereka wakili.

Sebuah negara pada dasarnya sama dengan sebuah individu, harus berusaha hidup tidak melebihi kemampuannya. Kalau di SD dan SMP kita terus-terusan diajari “jangan lebih besar pasak daripada tiang,” mengapa hanya kita saja yang mempraktekkannya? Mengapa tidak negara juga?

Penampakan krisis semakin jelas

Ketika krisis keuangan global melanda dunia di tahun 2008 lalu, The Fed menyalakan mesin pencetakan dolarnya dengan kecepatan penuh untuk membanjiri pasar dengan USD yang baru, dunia yang sudah kelebihan hutang, diobati dengan hutang yang jauh lebih besar, anda percaya ekonomi sembuh? Jika anda tidak tahu seberapa buruk krisis keuangan 2008 terjadi, anda bisa membacanya di sini 2008 financial crisis

Setelah 2009, pemulihan ekonomi tampaknya memang akan berhasil, pabrik-pabrik yang tadinya terancam gulung tikar, akhirnya bisa berjalan kembali karena permintaan meningkat dari konsumen yang mendapat kredit murah untuk berspekulasi lagi di bursa saham dan pasar negara-negara berkembang. Tapi ini semua hanyalah ilusi, begitu kredit ini ditagih, maka dunia akan kembali kepada tren semula, resesi.

Jurus The Fed yang menggelontorkan likuiditas pasca krisis 2008 membuat bubble di mana-mana, bursa saham, properti, surat utang dll melonjak tajam. Selama masa “pemulihan” ini, Suku bunga acuan di negara-negara maju ada yang diturunkan sampai 0%, bahkan minus seperti di Jepang, sehingga jika mereka menabung di bank, nilai uang yang mereka tabungkan tidak akan berkembang, tetapi malah dipotong. Uang-uang ini kemudian dispekulasikan ke surat utang dan pasar saham negara-negara seperti Indonesia yang bunganya masih tinggi, sekitar 7% saat itu. Tanpa perlu menjadi analis, saya yakin anak kecil yang baru lulus SD pun akan sadar bahwa meminjam uang dengan bunga 0% dan membeli surat utang dengan bunga 7% akan memberikan keuntungan sebesar 7% juga, tanpa perlu kerja banting tulang pun, cukup ongkang-ongkang kaki, bunga utang akan cukup menghidupi spekulan-spekulan ini.

Tapi semenjak 2013, The Fed mulai mencanangkan kenaikan suku bunga, dan baru benar-benar menaikkannya di tahun 2015 sebanyak satu kali, rupiah langsung turun dari 11.700 ke kisaran 14.600. dalam kurun 2016-2017 isu kenaikan suku bunga acuan The Fed ini melandai dan sedikit menurunkan ketegangan di pasar, rupiah lalu stabil di kisaran 13.000-an, tensi baru mulai meningkat kembali setelah The Fed merencanakan kenaikan suku bunga sampai 4 kali di tahun 2018. Alasan pemerintah soal pelemahan rupiah ini adalah karena perang dagang US vs Cina, tetapi alasan utama yang sebenarnya adalah karena kenaikan suku bunga acuan di US yang membuat pasar negara berkembang menjadi beresiko. Sampai tulisan ini dibuat, The Fed baru menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali, tapi Peso Argentina sudah anjlok 106%, Lira Turki 73%, Real Brazil 25%, Rubel Rusia 18%, India 12% dan Rand Afrika Selatan 25%, Rupiah masih mendingan, baru 10%.

Yang menjadi masalah adalah, jika pengetatan ini lebih agresif, bukan USD 40 milyar per bulan tetapi USD 100 milyar atau USD 200 milyar. Apa lagi kalau targetnya untuk kembali ke posisi aset The Fed sebelum krisis 2008 yang hanya sekitar USD 900 milyar. Untuk mencapai level aset USD 900 milyar dari USD 4.34 triliun itu pemotongan yang tidak sedikit. Kalau Jerome Powell, ketua the Fed, masih mempertahankan kecepatan tingkat penyeimbangan neraca aset the Fed seperti yang sekarang $ 40 milyar per bulan, perlu waktu sekitar 7 tahun. Kalau yang diinginkan kurang dari 2 tahun, maka ia perlu menarik USD 150 milyar perbulan. saya tidak tahu apa yang ada di kepala-kepala the Fed. Oleh sebab itu kita lihat saja perkembangannya.

Ucapan John Connally, menteri Keuangan US dan arsitek utama pada ketidak-bijaksanaan Nixon Shock di tahun 1971, dalam pertemuan G-10 di Roma di akhir tahun 1971 membuat peserta pertemuan mengerutkan dahi:

“The dollar is our currency, but it’s your problem,”

(dolar adalah mata uang kami, tapi it problem kamu)

Kalau itu ucapan the Fed maka bunyinya:

“Dolar itu mata uang kami dan kami yang mengeluarkan, tetapi itu problem kamu.”

Kamu disini mungkin termasuk presidennya sendiri, rakyat Amerika dan pelaku bisnisnya; di samping orang-orang negara lain. Jadi the Fed tidak punya masalah, yang punya orang lain.

Kalau para kreditur talmudik yang menciptakan sistem keuangan modern benar-benar berniat untuk membantu negara-negara yang kesulitan ekonomi, mereka hanya perlu melakukan dua hal:

  1. hapus bukukan utang-utang mereka.

Uang, jika dicetak tidak dalam bentuk kredit, maka akan terus beredar di masyarakat sebagai alat pembayaran dan kita tidak perlu saling sikut berebut mengumpulkan uang yang beredar hanya untuk membayar bunga kredit yang tidak pernah diedarkan si pencetak uang.

  1. kembalikan aset-aset penghasil income yang mereka rampok dengan dalih privatisasi saat krisis sebelumnya terjadi.

Tentu saja, mereka tidak akan melakukan itu!

Kita diajarkan di sekolah bahwa imperialisme Inggris sudah lama berakhir, tetapi sejarah ditulis oleh pemenang, dan kita masih adalah pecundang. Inggris dan Belanda meninggalkan negara-negara jajahannya setelah mendirikan bank sentral di masing-masing negara. Bank sentral tersebut kemudian akan mengembangkan mata uang lokal (kredit/hutang) untuk dipakai oleh rakyat negara tersebut (suplai uang tumbuh lewat kredit oleh bank komersial swasta yang meminjam duluan kepada bank sentral). Tetapi tahukah Anda, nilai dari mata uang negara-negara tersebut masih dalam kendali kelompok yang sama yang duduk manis di sepetak tanah di London? Kelompok yang sama yang mengeksploitasi rakyat yang mereka jajah sejak beberapa abad yang lalu.

Posisi Indonesia

Dalam beberapa minggu ini, pemerintah mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi yang kita alami sekarang, dua dari lima negara yang tergabung dalam “The Fragile five”, Turki dan Afrika Selatan sudah mulai krisis, bahkan Afrika Selatan sudah resmi resesi sejak tahun ini, tinggal India, Brazil dan Indonesia yang masih bertahan. bagaimana dengan nasib Indonesia ke depannya?

Kalau mau jujur, ekonomi kita sudah mulai sakit sejak 2011, tahun di mana barang-barang komoditas yang menjadi andalan Indonesia terjun bebas. Batu bara, karet, minyak sawit, semua tidak pernah bisa kembali bangkit dan menyeret neraca pembayaran Indonesia menjadi defisit, itu sebabnya rupiah terus turun dari level puncaknya di 8500 per dolar pada tahun 2011 menjadi di kisaran 15000, terbantai 76% sampai tulisan ini dibuat. Defisit neraca pembayaran atau CAD saat ini sudah memasuki tahun ketujuh, masih lebih baik dibanding defisit kronis pra krisis 98 yang berlangsung selama 17 tahun, sekarang baru 7 tahun, masih mendingan.

Untuk menangkal kelesuan ekonomi, proyek-proyek besar pun dibangun, hutang ditarik besar-besaran sebagai modal pembangunan ini. 4 tahun setelahnya, defisit transaksi berjalan masih minus, bahkan di kuartal kedua 2018 melebar menjadi 3% lebih, pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5%, di bawah target pemerintah yang 7%, defisit neraca perdagangan juga masih tekor, bahkan di bulan Juli 2018 sampai USD 2.03 milyar, cadangan devisa anjlok sekitar USD 13 milyar, rupiah juga turun sekitar 10% hanya di 2018 dan masih cenderung turun. Pemerintah mempunyai ide untuk menggenjot ekspor dan pariwisata untuk membalikkan defisit, pertanyaannya, di saat seluruh dunia mengalami resesi, mau ekspor ke mana? turis dari mana yang mau ditarik kalau rakyat negara-negara lain pun kesulitan ekonomi?

Pemerintah kemudian mencoba menangkal kepanikan dengan membandingkan data krisis 1998 dengan kondisi 2018 yang dianggap jauh berbeda, untuk ini saya setuju, kita tidak bisa menyamakan kondisi sekarang dengan krisis 98 dulu, akan lebih tepat jika yang dibandingkan adalah tahun 1996 yang pra krisis, tapi pemerintah tidak mau membuka data itu, mungkin takut jika banyak terjadi kemiripan data dengan saat ini, entah lah. Saran dari saya, jangan pernah percaya pemerintah untuk saat-saat seperti ini, kecuali jika anda sudah siap untuk jatuh miskin semiskin-miskinnya. Apakah pemerintah siap? Yang lebih penting lagi, apakah anda siap?

Bagaimana krisis terjadi

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, tetapi saya bisa berspekulasi.

Pertama, ekonomi riil harus collapse duluan. Harus ada puluhan juta orang kehilangan pekerjaan mereka, dan puluhan bahkan ratusan juta lainnya hidup dalam kepanikan.

Kedua, suplai bahan pangan akan mengalami defisit. Sekarang kebanyakan negara masih memiliki simpanan beras atau gandum (di negara barat) selama beberapa bulan. Tetapi jatuhnya harga komoditas saat ini bisa memicu kebangkrutan pertanian / perkebunan. Bila sebagian dari mereka tidak menanam kembali pada bulan-bulan mendatang, maka hasil panen akan menurun. Dan bila berbagai negara telah habis mengonsumsi cadangan bahan pangan mereka, situasi akan menjadi tak terkontrol, inilah saat yang paling cocok untuk kaum talmudik mengambil alih dunia, one currency, one government. Inilah saat yang mereka tunggu-tunggu, seluruh dunia akan tergantung pada mereka, anda bisa menonton cuplikan wawancara Alessio Rastani dengan BBC di sini The fact of stock market

Banyak orang mengatakan informasi-informasi seperti yang sedang Anda baca ini sebagai teori konspirasi sesat. Tetapi, maaf… menurut saya, justru orang-orang itulah yang ibarat anak ayam yang dipelihara oleh serigala, dan setelah tumbuh besar, dia justru membela serigala itu, karena tidak sadar bahwa orang tuanya sebenarnya telah dibunuh oleh serigala tersebut. Mereka tidak tahu golongan macam apa yang sedang mereka bela.

Kawan, saya bisa saja duduk manis di rumah, atau santai ngobrol dengan teman-teman dan keluarga saya. Kenyataan bahwa ada cukup banyak orang yang masih bersedia membagi informasi di internet kepada kita secara gratis sebenarnya adalah hal yang perlu kita syukuri.

Pernahkah anda heran mengapa kalung emas di leher anda harganya berfluktuasi secara harian? Mengapa harga emas di pasar berjangka London dan New York, yang partisipannya hanyalah segelintir kecil orang, bisa mempengaruhi harga emas untuk setiap penduduk lainnya di muka bumi?

Kalau memang ada sebuah topik yang sedemikian penting yang harus didiskusikan secara nasional di seluruh sekolah, universitas, televisi, radio, bahkan sampai ke sudut warung kopi sekalipun di negara ini, bahkan secara internasional di seluruh dunia, saya rasa topik itu adalah bagaimana seharusnya uang diciptakan kepada publik, kepada kita-kita semua.

Bankir hanya menciptakan uang dalam bentuk kredit (hutang), dan mereka selalu meminta lebih daripada yang mereka berikan.

Ibarat seorang tukang kayu yang setiap hari menebang pohon lebih cepat daripada dia menanamnya kembali… Kalau tindakan dia dibiarkan, dan diteruskan ke anak dia… dan diteruskan lagi ke cucu dia… dan diteruskan lagi ke cicit dia… Hanya masalah waktu sebelum dinasti tukang kayu ini menggunduli semua pohon di dunia.

Ini adalah logika matematika yang wajar, saya tidak sedang menulis hal-hal yang misterius di sini…

Manusia-manusia di dunia ini, kita-kita semua, sebenarnya hanyalah sekelompok orang yang dipermainkan dalam debt based money system dan fractional reserved banking

Jadi, mulailah bercerita. Topik ini benar-benar perlu untuk didiskusikan di masyarakat, bukan hanya di dunia maya.

Saya mungkin bisa salah dalam prediksi ini. Kita berada di dalam babak baru sejarah yang tidak pernah dimasuki manusia sebelumnya. Indikasi ekonomi dan indikator teknikal yang ditutunkan dari jaman standar keuangan yang berbasis emas, banyak yang tidak berfungsi karena basisnya sekarang sudah berubah, kredit dan hutang. Di samping itu yang disebut ilmu ekonomi sesungguhnya bukan ilmu, melainkan opini. Dan kaidah-kaidahnya tidak dilengkapi dengan bukti dan kondisi yang sufficient, melainkan hanya necessary. Namun demikian, kehati-hatian adalah perlu, apalagi jika kita menjelang pensiun. Pada usia-usia tersebut tidak ada ruang untuk berbuat kesalahan. Ketika anda salah……, uang pensiun anda amblas, dan anda menyongsong kematian dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Alangkah mengenaskannya nasib yang seperti itu. Salah satu misi saya adalah memberi peringatan agar pembacanya tidak bernasib mengenaskan.

Tidak ada jalan keluar yang nyaman dari krisis yang sebentar lagi akan kita hadapi, dan ketika semuanya berjalan persis seperti apa yang saya ceritakan di sini, ingatlah baik-baik dengan apa yang saya tulis ini, pray for the best, but get prepared for the worst.

Terakhir, meskipun saya seorang muslim, tapi saya ingin mengutip penggalan ayat alkitab di bawah yang menurut saya memiliki substansi yang sama dengan topik kita kali ini.

“Orang kaya berkuasa atas orang miskin.
Orang yang berhutang adalah budak dari yang menghutangi.”

– Amsal 22 : 7 –

 

Categories
Uncategorized

Pajak untuk Pembangunan?

20689751_1839636363018957_1968641293268697170_o

Apa yang ada di benak anda jika melihat poster di atas? Atau slogan ini: “bayar pajaknya, awasi penggunaannya”. Lah KPK saja kesulitan mengawasi penyelewengan APBN&APBD di Indonesia, apalagi masyarakat awam, bagaimana cara kita mengawasi penyaluran penggunaan pajak agar tidak diselewengkan oleh pemerintah?

Beberapa hari ini, saya terpikir untuk mengangkat masalah pajak, bagi para pendukung mazhab pajak untuk pembangunan, setelah membaca tulisan ini, saya yakin mereka akan berbondong-bondong menghujat saya, bahkan mungkin ingin menyeret saya ke pengadilan karena apa yang saya sampaikan bertolak belakang dengan apa yang mereka yakini, tidak nasionalis, penyebar kebencian, dan lain sebagainya. Saya tidak peduli, prinsip saya selalu sama: mayoritas belum tentu benar, jika saya berada di kerumunan orang gila, saya akan tetap berperilaku normal meskipun orang-orang gila di sekitar saya berperilaku berbeda dengan saya, saya tidak perlu ikut-ikutan menjadi gila agar saya terlihat normal di mata orang gila. Bagi yang sudah mengikuti blog ini sejak beberapa bulan lalu, mereka pasti paham bahwa apa yang saya tulis di sini adalah murni kebenaran, tidak lebih dan tidak kurang.

Perhatikan baik-baik cerita berikut:

Di sebuah pulau dengan populasi 100 orang, terdapat sekumpulan orang yang menamakan diri mereka pemerintah dengan jumlah anggota sebanyak 10 orang, terdiri dari ketua, wakil ketua, dewan masyarakat dan bendahara, dan dari 90 orang sisa populasinya, ada  satu tukang emas yang bekerja mencetak koin emas sebagai alat pembayaran di masyarakat, koin emas ini diedarkan ke seluruh populasi melalui sekumpulan orang di pemerintahan lewat badan usaha yang disebut bank. Koin emas ini diedarkan ke masyarakat dengan skema kredit. Artinya, setiap 100 keping emas yang beredar, ada bunga 5% (atau berapa saja, tinggal sebut) yang dibebankan kepada mereka yang mengajukan kredit. Dengan bekal koin ini, masyarakat mulai membangun rumah, membeli kapal untuk melaut, bibit untuk ditanam, dan ternak untuk digemukkan. Pemerintah juga meminjam koin emas ini kepada tukang emas dengan skema yang sama, kredit. Koin-koin emas ini lalu dipakai untuk membuat jalan, gedung pemerintah dan juga gaji mereka sendiri.

Masalahnya, 10 orang yang ada di pemerintahan ini tidak melakukan pekerjaan produktif seperti mayoritas masyarakat, ketika nelayan menangkap ikan di laut untuk dijual di pasar, petani menanam bibit sayur untuk kemudian dijual setelah panen, mereka menghasilkan nilai lebih dalam bentuk koin emas, sedangkan 10 orang ini, mereka hanya tahu cara menghabiskan koin emas, bukan menghasilkan koin emas. Mereka hidup dari iuran bulanan yang diambil dari masyarakat yang mayoritas, pekerjaan mereka adalah menarik koin di masyarakat dan menghabiskannya, bukan menghasilkan koin. Selain itu, bunga kredit yang ditagih oleh tukang emas kepada mereka yang meminjam koin emas juga tidak pernah diedarkan di masyarakat. Katakanlah pemerintah perlu 1000 keping koin emas untuk membangun jalan dengan bunga 5%, saat utang ini jatuh tempo, harus ada 1050 koin emas yang terkumpul untuk dikembalikan ke tukang emas, dari mana pemerintah mendapatkan yang 50 lagi jika bunganya ini tidak pernah diedarkan?

Si tukang emas lalu memberi sebuah solusi kepada pemerintah, naikkan saja batas iuran bulanan dari masyarakat lalu namai dengan pajak penghasilan, besarnya tergantung penghasilan masyarakat, semakin besar penghasilan mereka, semakin besar juga pajak yang harus disetorkan, soal utang, cukup bayar bunganya saja, utang pokoknya urusan nanti, tidak perlu dilunasi. Sebagai bonus karena pemerintah telah sangat patuh dengan sistem yang diterapkan si tukang emas, dia lalu memberikan pinjaman lainnya kepada pemerintah untuk membangun infrastruktur yang lain, seperti sekolah, rumah sakit dan pelabuhan, ini akan membuat para pembayar pajak merasa uang yang mereka bayarkan ke pemerintah ada hasilnya. Selama kredit terus tumbuh, penambahan utang ini tidak akan jadi masalah karena akan selalu ada kredit baru untuk menggantikan kredit lama, sehingga suplai koin emas yang beredar akan terus ada, meskipun nilai utangnya bertambah. Sayangnya, pemerintah tidak sadar bahwa koin emas yang beredar di masyarakat juga sejatinya adalah utang kepada tukang koin emas, semakin besar pajak yang ditarik, semakin cepat pula peredaran koin emas yang menyusut di masyarakat. Akan ada masa ketika pemasukan dari pajak ini bahkan tidak akan cukup untuk membayar cicilan bunga utang yang semakin tahun semakin membesar.

Cerita di atas adalah gambaran dari kondisi kita saat ini, tentu saja alurnya sudah sangat disederhanakan, tetapi inti dari permasalahannya tetap sama.

Tidak banyak yang sadar bahwa pajak yang dibayarkan hanya sedikit sekali yang benar-benar digunakan untuk pembangunan, sisanya habis untuk bayar cicilan utang abadi pemerintah serta gaji dan tunjangan pegawai pemerintah. Kita ambil contoh APBN Indonesia tahun 2017. Total anggaran pemerintah adalah 2133,3 trilyun, dan total pendapatan negara selama tahun 2017 adalah 1736,1 trilyun. Artinya, ada defisit sebesar 397,2 trilyun selama tahun 2017, dari mana pemerintah menutupnya? Iya, utang. Untuk cicilan utang dan bunga yang harus dibayar pemerintah tahun 2017 ada lebih dari 400 trilyun, dan porsi gaji beserta tunjangan PNS berkisar di angka 25% dari total APBN, katakanlah +/- 500 trilyun, tanpa melihat pengeluaran yang lain-lain, dari kedua pengeluaran ini saja sudah memakan lebih dari 60% total pajak yang disetor ke pemerintah, lalu berapa persen pajak yang kita setorkan ke pemerintah yang benar-benar dipakai untuk membangun? Silakan pikir sendiri, yang jelas, istilah “pajak untuk pembangunan” sudah gugur dengan fakta di atas, istilah yang lebih tepat harusnya “bayarlah pajak, karena pajak yang anda bayarkan adalah untuk cicilan bunga utang abadi dan kemakmuran kami para PNS”. Tentu saja masih ada pos pendapatan negara bukan pajak, tapi jumlahnya masih sangat kecil, ini tidak banyak membantu.

Sebagai gambaran, saya mau menawarkan pembuatan jalan baru di lingkungan komplek perumahan anda dengan harga 1 milyar, dengan rincian, 200 juta untuk biaya asli pembuatan jalan, 300 juta untuk bayar cicilan utang saya, dan 500 juta untuk gaji dan tunjangan karyawan saya selama satu tahun, anda mau? Yang lebih penting lagi, apa anda ikhlas? Slogan pajak untuk pembangunan adalah bentuk penyesatan terencana. Makan di restoran, bayar pajak, beli rumah, bayar pajak, pakai motor, bayar pajak tahunan, tinggal di rumah sendiri, bayar PBB, bahkan ketika anda di-PHK, uang pesangon anda akan disunat hingga 25% oleh pemerintah, dan 5% uang pensiun juga harus disetor ke pemerintah, sudah tidak punya pekerjaan, tidak tahu kapan akan bekerja lagi, masih harus dipajaki pula. Jika pemerintah tidak memajaki pesangon, setidaknya orang yang terkena PHK akan punya tabungan hingga 25% lebih lama dibanding harus membayar pajaknya, mengambil uang dari orang yang terkena musibah itu zalim!

Bagi mereka yang pikirannya dangkal dan sudah tercuci otaknya akan berdalih bahwa pajak diperlukan negara untuk membangun jalan dan fasilitas lainnya. Itu adalah dalih. Karena, pengelola jalan tol tidak menetapkan semua orang harus membayar tol, akan tetapi terbatas pada yang menggunakannya saja. Demikian juga sekolah swasta, apa mereka menuntut semua orang membayar? Tentu tidak. Yang membayar hanya mereka yang menikmati pendidikan di situ. Apa peran pemerintah pada pekerjaan kita sehingga mereka berhak memajaki penghasilan kita setiap bulan? Tentu masih akan ada saja yang ngeyel dan ndableg yang coba menyanggah tulisan ini dengan berkata bahwa negara jauh lebih besar dan lebih kompleks dibanding hanya sekedar jalan tol atau sekolah swasta, perlu uang yang besar untuk menjalankan negara sebesar Indonesia. Well, kembali ke inti masalahnya, negara tidak pernah minta izin rakyatnya untuk mengambil utang, apa pemerintah minta izin ke saya setiap kali berutang? menentukan besaran gaji dan tunjangan PNS, Membayar gaji anggota DPR beserta tunjangannya yang besar, ditambah PNS, menteri dan tetek bengeknya yang memakan 25% APBN, mereka yang hidup mewah kenapa kita yang harus tanggung biayanya? Lalu apa urusan saya disuruh ikut iuran pembayaran biaya-biaya yang saya sendiri tidak pernah dilibatkan? Pertama, kita dipaksa bayar pajak untuk cicilan utang yang tidak akan pernah lunas sampai kapan pun juga, tidak akan pernah. Yang kedua, pungutan ini bersifat memaksa seperti yang tertulis di UUD 45 ayat 23 A:

“Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara…” (pasal 23A). Jelas-jelas pajak dikelompokkan sebagai pungutan yang memaksa dan untuk keperluan negara, bukan untuk keperluan rakyat, lihat lagi penjelasan di atas tentang porsi pembayaran gaji dan cicilan utang yang memakan 60% duit pajak. Bukankah pungutan paksa adalah juga perampokan?

 Dari sudut pandang agama, dalam hal ini Islam, menarik untuk dilihat bahwa menarik pajak merupakan perbuatan yang sangat dikutuk, banyak dari ulama yang menyamakan pajak yang dibebankan kepada kaum muslim secara zalim sebagai perbuatan dosa besar, seperti yang dinyatakan Imam Ibnu Hazmi di dalam Maratib al Ijma’ hlm : 141 :

”Dan mereka (para ulama) telah sepakat bahwa para pengawas (penjaga) yang ditugaskan untuk mengambil uang denda (yang wajib dibayar) di atas jalan-jalan, pada pintu-pintu (gerbang) kota, dan apa-apa yang (biasa) dipungut dari pasar-pasar dalam bentuk pajak atas barang-barang yang dibawa oleh orang-orang yang sedang melewatinya maupun (barang-barang yang dibawa) oleh para pedagang (semua itu) termasuk perbuatan zalim yang teramat besar, (hukumnya) haram dan fasik.”

Dalam hadits shahih muslim, dosa penarik pajak ini bahkan tersirat lebih besar dari dosa zina.

“ Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang penarik pajak, niscaya dosanya akan diampuni.” ( HR Muslim, no: 3208 )

Hadits di atas adalah jawaban Rasul ketika mendengar umpatan seorang sahabat kepada wanita yang berzina dan dihukum rajam, Rasul kemudian menegur sahabat tersebut, perhatikan baik-baik kalimat terakhirnya, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang penarik pajak, niscaya dosanya akan diampuni.” Dengan kata lain, terlihat bahwa Nabi mengatakan dosa penarik pajak ini lebih besar dari dosa zina. Dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, berkata:

Saya mendengar Rasullulah SAW berkata: Daud a.s. di malam hari akan membangunkan keluarganya dan berkata: hai keluarga Daud, bangun dan berdoa karena saat seperti ini adalah saat dimana Allah subhanahu wa ta’ala akan segera mengabulkan doa kecuali doa tukang sihir/tenung dan penarik pajak.

Di saat semua doa dikabulkan, tetapi doa penarik pajak ditolak, dosa macam apa dan seberat apa yang dilakukan para penarik pajak sehingga doanya tertolak? Mungkin Gayus Tambunan paham betul hadits ini, sehingga dia melakukan dosa-dosa besar yang lain, dari pada hanya membantu menarik pajak negara dikenai dosa setara syirik, sekalian saja bikin dosa yang lainnya, toh masuk neraka juga, entah lah.

Kembali pada topik awal kita, yaitu masalah pajak. Dalam Islam ada yang dinamakan Kharaj, mirip seperti pajak dari hasil bumi, anggap saja kharaj adalah pajak. Dan besar maksimumnya menurut Islam adalah 10%. Lebih dari itu, pemerintah bisa dikategorikan sebagai zalim. Ini berdasarkan beberapa hadith antara lain sunan Abu Daud.

Telah diceritakan kepada kami bahwa Muhammad bin Abdullah al Qaththan,  dari ibnu Maghra; dari ibnu Ishaq, ia berkata: orang yang mengambil sepersepuluh dari orang-orang, maka adalah mengambil pajak (kharaj) yang zalim. (Hadith dari Sunan Abu Daud No.  2549)

Coba lihat kembali, berapa banyak kegiatan kita sehari-hari yang dipalaki (dipajaki) pemerintah, kurang dari 10% apa lebih dari 10%? apa sudah sebanding dengan yang anda dapatkan dari pemerintah?

Pajak dan Riba

[4:29] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu…….

Islam melarang riba dan menyuburkan jual beli. Pajak yang ditarik pemerintah seperti saat ini jelas tidak termasuk perbuatan yang adil, karena dilakukan secara batil dan bersifat memaksa, dan penggunaannya pun tidak sesuai dengan apa yang dipropagandakan pemerintah, “pajak untuk pembangunan”. yang jelas, rakyat Bahrain dan Brunei yang penghasilannya tidak dipajaki, ternyata tidak lebih miskin dari Rakyat Indonesia, bahkan sebalikanya, padahal sumber daya mereka hanya dari minyak, berbeda dengan SDA Indonesia yang lebih kaya dan beragam.

Wallahu a’lam

Categories
Uncategorized

Properti dan Ilusi Kemakmuran

Properti dan Kemakmuran

Kali ini, saya ingin mengangkat topik tentang peran properti dalam perputaran ekonomi di sebuah masyarakat. Ada dua poin penting dari masa booming properti yang dapat mengerek roda ekonomi di sebuah negara atau wilayah, yang pertama adalah dampak turunannya kepada rantai industri, dan yang kedua adalah suplai uang yang beredar di masyarakat.

Poin pertama:

Pernah membayangkan dampak ekonomi dari membangun rumah? Ketika sebuah komplek perumahan dibangun, semua memerlukan dukungan dari industri penunjang agar pembangunan rumah bisa selesai. Pabrik semen, baja, genteng, pipa, kabel listrik, lampu, ditambah aspal untuk akses jalan dan sederet industri lainnya, semua bergerak memenuhi permintaan pasar properti ini. Setelah rumah jadi, orang-orang masih harus mengisinya dengan tempat tidur, furnitur, televisi, alat dapur dan sejumlah peralatan pendukung. Di era industri seperti saat ini, tidak ada satupun aktivitas ekonomi yang dapat menandingi gaya dorong sektor properti terhadap kemakmuran sebuah masyarakat. Ketika sektor properti tumbuh, banyak pekerjaan baik langsung maupun tidak langsung yang ikut tercipta dan menikmati booming pasar properti ini. Jadi untuk anda yang punya sejumlah uang dan ingin mengalokasikan dananya ke dalam investasi yang likuid, membuka usaha di daerah dengan sektor properti yang sedang ramai dibangun adalah pilihan terbaik.

Poin kedua:

Jika anda membaca tulisan pertama saya tentang penciptaan uang kertas, anda pasti sudah paham bahwa uang hanya akan ada jika kredit diajukan, orang-orang di sebuah masyarakat harus bergantian mengajukan kredit baru agar suplai uang tidak berkurang, tanpa kredit, uang tidak akan tercipta dan aktivitas ekonomi tidak akan berjalan. Sektor properti adalah sektor di mana suplai uang dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama. Di Indonesia, biasanya tenor kredit perumahan berlaku antara 10-20 tahun, di negara-negara Eropa dan US, kredit KPR ini bahkan bisa mencapai 30 tahun, jauh di atas sektor kredit lainnya seperti otomotif atau kredit usaha yang hanya berkisar di angka 1-5 tahun, bahkan bisa kurang dari itu. Itu sebabnya pemerintah mati-matian membuat kebijakan agar sektor kredit perumahan ini terus tumbuh dan tidak mandek ketika pasar mulai jenuh, seperti DP 0% misalnya, meskipun skema ini konyol, karena memungkinkan orang yang tidak mapan secara finansial ikut-ikutan masuk ke dalam pusaran hutang, tetapi tetap diajukan oleh pemerintah agar sektor properti ini bisa terus tumbuh. Tahu pemantik krisis keuangan global tahun 2008 lalu? Ya, kredit macet sektor perumahan di US sana yang dengan cepat menyebar ke negara-negara Eropa, Amerika latin dan Asia. Pasca krisis ini, bank investasi Lehman brothers yang sudah berusia 150 tahun kolaps, bank-bank besar lain di-bail out, Yunani dan Islandia bangkrut, Italia, Spanyol, Irlandia megap-megap, di Indonesia sendiri, muncul kasus Bank Century yang menyeret nama Sri Mulyani dan Boediono, meskipun kasus ini akhirnya hilang ditelan waktu.

Kenyataan dan ilusi

pitribe.ashx

Pada masa awal sebuah negara baru berdiri, semua berjalan dengan sangat normal. Gedung pemerintahan, sekolah dan jalan-jalan dibangun, uang yang dibelanjakan berputar di tengah-tengah masyarakat, kontraktor jalan dan gedung rumah sakit juga mendapat bayaran rutin dari pemerintah, uang ini kemudian dibelanjakan lagi sebagian, lalu sisanya ditabung di bank-bank komersial. Setelah beberapa tahun berjalan, Bank sentral sudah tidak terlibat jauh dengan urusan pencetakan uang baru di masyarakat, bank-bank komersial di mana masyarakat menyimpan sebagian uang mereka mengambil alih urusan pencetakan uang dengan cara memberikan kredit kepada masyarakat yang mengajukan kredit, seperti kredit mobil, rumah, motor atau kredit usaha. Singkatnya, pada masa ini adalah masa-masa terbaik dalam sistem fractioanl reserve banking, ekonomi berputar, masyarakat memiliki penghasilan, pembayaran pajak ke pemerintah lancar, dan bunga utang bisa terus dibayar, masyarakat, pemerintah dan bankir semuanya senang.

Masalahnya, ekonomi tidak akan terus tumbuh secara parabolik, masyarakat tidak bisa terus membeli rumah beserta isinya setiap tahun, bahkan sekalipun mereka mampu, hanya sedikit sekali orang yang cukup sembrono untuk melakukannya. Ketika rata-rata orang sudah memiliki apa yang bisa dibelinya, katakanlah mobil, motor, rumah, gadget dan lain sebagainya, pasar akan mulai mengalami kejenuhan, fokus orang-orang tidak lagi untuk mengajukan kredit baru, tetapi melunasi kredit yang sudah ada. Ingat poin di awal, uang = hutang, jika ekonomi stagnan, maka suplai uang yang beredar akan menyusut untuk pembayaran utang ke perbankan.

Pada akhir booming ekonomi, grafik pertumbuhan akan menukik ke bawah dan berangsur-angsur mengalami perlambatan untuk kemudian menuju resesi, dalam sistem ekonomi yang berbasis hutang, ini adalah satu keniscayaan.

https-_blogs-images-forbes-com_mikepatton_files_2014_01_four-phases-of-a-bubble-graph.png

Pada masa menjelang resesi, bubble-bubble akan menunjukkan tanda-tanda meletus, bursa saham memerah, harga properti melambung dan nilai mata uang merosot. Di masa ini, pabrik-pabrik akan mengurangi produksi karena permintaan berkurang, tambang-tambang logam dan minyak satu-persatu tutup karena turunnya permintaan bahan baku untuk produksi dari pabrik-pabrik yang memasok barang kebutuhan masyarakat. Di sinilah kredit busuk mulai bermunculan, kredit perumahan macet karena sebagian masyarakat yang di-PHK perusahaan tempat mereka bekerja tidak mampu lagi membayar cicilan rumah, lalu disusul dengan gagal bayar perusahaan di sektor pertambangan dan minyak yang mengandalkan modal produksinya dari kredit, bank-bank komersial pun kelimpungan karena kekurangan likuiditas, masyarakat juga mulai kebingungan karena uang di tabungan mereka sulit diambil, padahal saldonya tertulis utuh. Dalam sistem fractional reserve banking, uang yang anda tabung tidak akan dibiarkan mengendap begitu saja, bank akan menggunakannya untuk dipinjamkan lagi ke debitur yang lain, dan ketika debitur ini gagal bayar, baru pemilik tabungan sadar saldo tabungan di buku rekeningnya hanyalah kumpulan angka tanpa bisa dicairkan. Jika nasabah yang mengambil uang sedikit, kebususkan sistem bunga berbunga ini tidak akan terlihat, ceritanya akan lain jika seluruh nasabah mengambil uangnya di bank dalam waktu bersamaan. Itu sebabnya pemerintah melarang penarikan seluruh uang oleh semua nasabah dalam waktu bersamaan, dan ini diatur undang-undang, anda masih yakin pemerintah bekerja untuk anda dan bukan untuk bankir? Pikir kembali.

Di masa deflationary, pemerintah biasanya muncul sebagai pahlawan kesiangan, uang dicetak dalam jumlah besar untuk menalangi kerugian bank-bank komersial yang mengalami kredit macet, dan karena masyarakat sudah kehilangan daya beli untuk belanja, pemerintah lah yang akan menggantikan kegiatan konsumsi ini. Proyek-proyek skala besar dibangun, jalan-jalan baru dibuat, intinya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh turun, utang baru harus terus dicetak agar negara tidak mengalami stagnasi. Yang jadi masalah, pemerintah dari awal tidak pernah memiliki wewenang untuk mencetak uang, lalu dari mana uang-uang ini berasal? Utang.

Ada 3 cara pemerintah mendapatkan uang:

  1. Pajak
  2. Dividen BUMN
  3. Menerbitkan surat utang

Pada masa resesi, sulit untuk mengharapkan pemasukan dari dua poin teratas, satu-satunya cara hanya opsi nomor 3, terbitkan surat utang. Di Indonesia, pernah muncul kasus BLBI ketika krisis 1998 meletus, disusul dengan kasus Bank Century tahun 2008 yang menyeret nama menteri keuangan saat ini dan mantan gubernur bank sentral yang pada tahun 2009 diangkat jadi wapres, kasusnya serupa, cetak uang baru untuk menutupi kerugian bank-bank yang sebenarnya sudah bangkrut dengan menerbitkan surat utang ke bank sentral yang cicilannya akan dibayar pemerintah pada tahun-tahun mendatang lewat kenaikan pajak.

Ketika masa booming ekonomi, bank mengambil keuntungannya sendiri, dan ketika kondisi resesi, pemerintah lah yang akan menanggung kerugian bank dengan jaminan kepala rakyatnya. Perhatikan analogi berikut:

Ada seorang penjudi berat pergi ke Macau untuk main casino dengan mempertaruhkan aset kotanya sebesar 10 milyar. Di akhir cerita, penjudi ini bangkrut dan kalah judi sebesar 40 milyar, dia lalu meminta pemerintah kota untuk menalangi kerugiannya sebesar 55 milyar, dengan rincian 10 milyar untuk mengganti aset yang digadaikan, 40 milyar untuk bayar utang judi, dan 5 milyar sebagai bonus karena dia berhasil menghindarkan kotanya dari krisis ekonomi, ini adalah sistem kerja perbankan.

swear_dees

Meskipun pemerintah menggantikan peran warganya di sektor konsumsi, tapi keadaan tidak akan bertambah baik karena uang yang dipakai pemerintah sejatinya juga utang, bukan uang yang mereka cetak sendiri. Periode ini adalah masa mengulur-ngulur waktu untuk menyamarkan deflasi, tapi tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa negara sedang menuju kebangkrutan. Ketika pendapatan negara sudah lebih kecil dari beban utang yang harus dibayarkan, maka di saat inilah giliran pemerintah sendiri yang harus diinfus. Inflasi memang buruk, tapi percayalah, deflasi jauh lebih buruk lagi. Ketika uang anda sebesar 250 ribu yang tadinya cukup untuk membeli sekarung beras tiba-tiba hanya cukup untuk membeli setengah karung, itulah inflasi, dan ketika harga sekarung beras yang tadinya 250 ribu lalu turun menjadi 50 ribu, tetapi di saat yang bersamaan anda sudah tidak punya uang sepeserpun, itulah yang dinamakan deflasi.

Ketika kita melihat kereta yang datang ke arah kita di saat kita berada di jalur yang sama dengan kereta melaju, hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan diri adalah dengan keluar sejauh mungkin dari jalur kereta tersebut, menutup mata dan berharap kereta tidak akan menabrak kita bukanlah sebuah solusi. Sayangnya, logika semacam ini sulit dipahami oleh pemerintah di semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Saya tidak heran dengan hal ini, karena orang-orang yang menjadi ekonom di pemerintahan adalah penganut mazhab Keynesian, mazhab di mana hutang, riba dan suku bunga adalah wajar dalam sebuah sistem finansial dan dipercaya tidak memiliki dampak buruk terhadap peradaban umat manusia, meskipun sejarah berkata sebaliknya.

Secara de facto, USD merupakan mata uang dunia, di mana mayoritas perdagangan antar negara, cadangan devisa dan harga-harga komoditas diukur dalam USD, bukan dengan Yen, Euro, apalagi Rupiah. USD, bisa dan hanya boleh dicetak oleh The Fed, bank sentral US, dengan jaminan surat utang masyarakat dan pemerintah US. Kita, pemerintah dan warga negara selain US tidak dapat mengajukan pencetakan uang USD, jikapun ada, itu adalah USD yang sudah beredar di masyarakat, bukan USD yang dicetak fresh from The Fed’s oven. Itu sebabnya, meskipun krisis keuangan global 2008 bermula di US sana, tapi dampaknya langsung menjalar dengan cepat ke seluruh belahan dunia. Pasca krisis 2008, The Fed menggelontorkan Quantitative Easing atau dalam bahasa sederhananya adalah kredit murah untuk melawan krisis utang yang sudah pecah, bank-bank sakit di-bail out, kredit macet diambil alih, intinya, jangan sampai bubble kredit ini pecah. Utang, diselesaikan dengan utang yang lebih besar, jika anda percaya bahwa hal ini akan menyelesaikan masalah, maka anda sama naifnya dengan orang yang percaya bahwa obat dari overdosis kokain adalah dengan menyuntikkan kokain dengan dosis yang lebih besar lagi, ini tidak akan menyembuhkan, tetapi mempercepat penderitanya kepada kematian.

Sejak 2015 lalu, The Fed lewat Quantitative Tightening mulai menarik kembali USD yang beredar di masyarakat, targetnya, jumlah uang yang ditarik sama dengan uang yang digelontorkan saat krisis 2008 pecah. Itu sebabnya, pasca 2014 rupiah terus turun dari 11.700 menjadi 14.650 sampai tulisan ini dibuat. Sepanjang sejarah, The Fed sudah melakukan hal ini sebanyak 18 kali, dan semuanya berakhir dengan market crash/resesi, tidak pernah terjadi pengurangan jumlah uang yang tidak diakhiri dengan depresi/resesi, tidak pernah. Jika anda berpikir bahwa krisis kali ini berbeda, ekonomi akan memburuk tetapi tidak buruk-buruk amat, maka anda perlu mengedukasi diri anda secepatnya, terakhir kali manusia mengalami krisis seperti ini adalah di masa 1930-an, di mana tahun-tahun setelahnya terjadi perang dunia 2 yang menewaskan ratusan juta manusia.

Musibah dan Fasad

Dalam Islam, ada dua istilah untuk menyebut sebuah ujian, musibah dan fasad. Gempa bumi dan tsunami termasuk musibah, karena tidak ada manusia yang bisa memprediksi kapan bencana ini datang. fasad, meskipun sama-sama ujian, tapi bisa diprediksi karena bukan gejala alam. Krisis ekonomi adalah contoh dari fasad, bencana buatan manusia sendiri. Ketika ada seorang debitur yang terlilit utang 100 juta dan saat utang jatuh tempo ini datang dia tidak memiliki uang untuk membayarnya, tanpa perlu jadi peramal pun, saya akan dapat dengan mudah memprediksi bahwa orang tersebut akan jatuh bangkrut.

Saat ini, BI masih memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan stabilisasi nilai rupiah, ibarat mobil di sebuah turunan berbukit, cadangan devisa ini bekerja seperti rem yang menahan laju mobil agar tidak melaju terlalu kencang. Hal ini dapat dilihat dari pelemahan rupiah yang meskipun terus turun, tetapi tidak meluncur jatuh, dalam setengah tahun, pelemahannya tidak sampai 8%, hal berbeda baru terjadi jika amunisi BI ini habis, di saat inilah rupiah akan meluncur jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Saran saya, simak baik-baik berita ekonomi yang sekarang terjadi, ketika laju pelemahan rupiah ini berangsur-angsur meninggi, kredit macet mulai bermunculan dan angka pengangguran semakin tinggi, berarti kita sudah tinggal selangkah lagi menuju resesi terburuk yang belum pernah dialami manusia manapun sebelumnya, semoga saya salah.

Categories
Uncategorized

Ilmu yang Jujur

The Banksters

Silakan googling tentang Erick Jazier Adriansjah, analis Bahana di akhir tahun 2008 yang ditahan karena mengingatkan client-nya tentang adanya bank-bank sakit. Bukankah di kemudian hari terbukti ada bank yang dilikuidasi dan bermasalah seperti bank IFI dan bank Century? Orang yang berbuat baik dan mengingatkan adanya bahaya malah dimasukkan ke dalam tahanan, sedangkan para gubernur bank sentral, orang yang menyembunyikan kebobrokan yang berpotensi merugikan banyak orang malah tetap makan gaji besar. Bisakah kalian percaya pada orang-orang semacam ini? Kalau dalam agama Islam, orang semacam ini disebut khianat, lawan dari amanah. Erick yang amanah ditahan kepolisian karena dituduh menyebar kepanikan, padahal yang dia sampaikan adalah kebenaran, sedangkan di sisi lainnya, Menkeu, pemerintah dan BI sepakat menutupi kebenaran, mereka inilah yang khianat.

Ekonomi jelas bukan sains, terkadang malah seperti agama-kepercayaan, semua tergantung kepercayaan masing-masing.Tapi saya selalu ingin ilmiah, atau paling tidak pseudo-ilmiah.

Bagaimana uang diciptakan

Sebagai ilustrasi, misalnya di Negara Kesatuan Republik Kecebong disingkat NKRK, ada bank sentral swasta bernama Bank Sentral Kecebong (BSK) yang diberi kekuasaan atas monopoli pencetakan uang, sebut saja Dollar Undur-Undur ($ DUU). Ingat baik-baik bahwa bank sentral ini adalah bank swasta seperti the Fed (Federal Reserves Bank, Amerika Serikat), dan bukan bank negara. Ia (Bank Sentral Kecebong) meminjamkan uang yang dicetaknya sebesar $1 juta (DUU) dengan bunga 5% (atau berapa saja, tinggal sebut) per tahun kepada pemerintah dan rakyat negara kecebong secara aggregat. Maka tahun berikutnya hutang ini sudah menjadi $1,05 juta. Kalau nasabah (baik pemerintah atau rakyat) tidak punya otoritas mencetak uang, dari mana nasabah memperoleh $ 50 ribu untuk bunganya itu? Setelah 5 tahun, hutang tersebut jatuh tempo dan harus dibayar berserta bunganya, maka total yang harus dikembalikan ke bank adalah $1,25 juta. Persoalannya adalah, dari mana nasabah memperoleh $250 ribu lagi? karena mereka tidak mempunyai otoritas mencetak uang $ DUU.

elite-global-alias-bankster-pemerintah-rakyat

Hikmah cerita, pada saat hari jatuh tempo hutang yang bersifat massal, akan terjadi kekurangan cash. Hal ini disebabkan karena ada selisih antara agregat uang yang beredar dengan total hutang (pokok dan bunganya). Uang yang diciptakan hanyalah sebesar hutang pokok. Oleh sebab itu mau tidak mau bunganya akan dikemplang, atau dibayar dengan aset (yang tentunya harganya akan dijatuhkan dulu oleh kreditur).

Cerita di atas adalah untuk kasus di mana debitur swasta yang wajib punya jaminan. Bagaimana jika debitur itu pemerintah yang jaminannya tidak ada kecuali “menarik pajak yang lebih rajin dan giat”? Pemerintah Negara Kesatuan Republik Kecebong (NKRK) mengeluarkan surat obligasi sebesar $100 juta dengan kupon 10% misalnya dengan jangka waktu 40 tahun. Dalam kurun waktu 10 tahun, uang $100 juta yang diperoleh dari menjual surat obligasi itu akan habis untuk membayar kupon bunga. Ketika habis masa berlakunya, total $DUU yang harus dibayar oleh pemerintah NKRK adalah $500 juta. Padahal yang ada hanya $100 juta. Perlu diingat bahwa NKRK tidak bisa seenaknya langsung mencetak uang karena pemerintah NKRK secara undang-undang tidak mempunyai otoritas mencetak uang. Jadi dari masa ke masa untuk menambal defisitnya NKRK mengeluarkan surat obligasi lagi yang agunannya tentu juga tidak ada, atau menarik pajak yang lebih giat. Itu berarti mengambil sebagian $ DUU yang beredar di masyarakat dan akan mencekik ekonomi. Secara keseluruhan, sistem harus melakukan ekspansi kredit untuk mengejar pembayaran bunga, sampai beban hutang tidak tertahankan lagi. Pada saatnya, hutang harus diselesaikan, terjadi kelangkaan $ DUU (yang secara matematis saldonya pasti negatif), aset terpaksa dijual. Karena ada keterpaksaan dalam menjual, maka harganya murah.

Hikmah dari uraian di atas adalah bahwa dalam sistem riba:

Harus terus melakukan ekspansi hutang secara eksponensial, kalau tidak, sistem akan kolaps. Ini berlangsung sampai beban hutang tak tertanggungkan lagi.

Ketika kecepatan hutang mereda atau berhenti maka sistem akan kolaps dan jumlah uang pasti tidak cukup uang membayar hutang. Secara matematik, tidak ada uang yang bisa dialokasikan untuk bunga/kupon. Besarnya hutang selalu (dan pasti) lebih besar dari jumlah uang yang beredar.

Sebagian hutang harus dibayar atau dikemplang. Jika pembayaran itu dilakukan dengan agunan (jika hutang pemerintah maka agunan itu bisa dibebankan ke rakyat), maka harga aset akan jatuh.

Dengan demikian pada fase deflationary, harga aset akan jatuh dan mata uang yang mengalami kontraksi akan naik nilainya karena ada kelangkaan.

Begitulah penjelasan yang disederhanakan, terasa mirip dengan fase Rp VS USD saat ini? di akhir tulisan, saya akan membawa kalian berpikir ke mana kita bergerak. Sebagai catatan penting, Bank Sentral Kecebong (BSK) di Negara Kesatuan Republik Kecebong (NKRK) adalah bank swasta dan NKRK tidak punya otoritas untuk mencetak uang. Yang punya hak adalah Bank Sentral Kecebong.

Ekonomi lepas landas, dan… nyungsep.

Setelah penjelasan singkat tentang bagaimana penciptaan uang kertas, saya ingin mengajak kalian untuk sedikit bernostalgia dengan krisis 98.

Mengenang-SMI-Expressa--Motor-Nasional-Mirip-Suzuki-Satria-FU-15-yang--Terkubur--Akibat-Krisis-Moneter-1998-di-Indonesia-master-1737050901

Pada akhir 1980-an sampai awal 1993, Thailand, Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Korea Selatan mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, 8–12%. Prestasi ini diakui oleh lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia dan dijuluki sebagai “keajaiban ekonomi Asia“.

Pada waktu itu, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan valas lebih dari 20 miliar dolar, dan sektor perbankan yang baik. Sampai bulan Juni 1997, deru mesin untuk ekonomi lepas landas masih sangat terasa, tapi bulan Oktober 1997 atau empat bulan kemudian, mesin untuk lepas landas ini ketinggalan di landasan pacu dan akhirnya nyungsep, cepat kan?

Meskipun mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi, ekonomi Indonesia sebetulnya tidak sebagus yang dipuji banyak kalangan. Selama 17 tahun, Indonesia memiliki defisit kronis akun berjalan swasta yang besar. Penerapan nilai tukar tetap meningkatkan pinjaman luar negeri dan memperbesar resiko di sektor keuangan. Hal ini diperparah dengan pulihnya ekonomi US dari resesi pada awal 1990-an, The FED di bawah pimpinan Alan Greenspan mulai menaikkan suku bunga US untuk menurunkan inflasi. Keputusan ini menjadikan US sebagai negara yang lebih menarik bagi investor dibandingkan Indonesia.

Pada bulan Juli 1997, Thailand mengambangkan Baht, dan Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran mengambang teratur ditukar dengan pertukaran mengambang-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September. Moody’s menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi “junk bond” alias sampah.

Di masa krisis 1998, perusahaan yang meminjam dalam USD harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah. Akibatnya, banyak orang yang bereaksi dengan menukarkan rupiah dengan USD, ini menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi. Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di Indonesia. Pada bulan Februari 1998, Presiden Soeharto memecat Gubernur Bank Indonesia, Sudrajad Djiwandono. Puncaknya, Presiden Soeharto sendiri yang dipaksa untuk mundur pada tanggal 21 Mei 1998 dan B.J. Habibie diangkat menjadi presiden.

Pelajaran yang bisa diambil, rezim kuat akan tetap bertahan selama bisa menjaga agar perut rakyatnya kenyang. Riak-riak kecil hanya muncul sesekali, itupun gampang ditumpas. Hal berbeda baru akan terjadi jika pemimpin otoriter ini berada di tengah-tengah masyarakat yang lapar dan putus asa, mereka ini mudah tersinggung dan gampang sekali untuk dihasut. Contohnya banyak, Gaddafi di Libya, Mubarok di Mesir, dan yang paling brutal di Suriah, tapi kalau saya bahas tentang Suriah ini akan sangat panjang, jadi untuk sementara kita lewat dulu, mungkin nanti.

Krisis, saat manusia kehilangan rasionalitas

Informasi bisa seperti cerita fiksi Superman, ceritanya memang enak dibaca, tetapi hanya untuk dibaca saja, bukan untuk dianalisa dan dicocokan dengan realitas. Orang tidak pernah melakukan cek realitas tentang kemampuan terbang Superman. Apa yang mendasari kemampuan terbang Superman, gaya Archimedes (gaya apung) atau tenaga propulsi seperti pesawat terbang? Kalau gaya Archimedes yang membuat Superman mengapung/terbang, maka berat Superman harus ringan sekali dan berat jenisnya lebih kecil dari berat jenis udara. Pertanyaan berikutnya akan muncul ketika melihat Superman in action mengangkat bus, pesawat terbang: apakah berat jenis rata-rata besi (bus atau pesawat) plus Superman lebih ringan dari udara? Andaikata Superman menggunakan sistem propulsi untuk terbang, di mana letak baling-baling atau sistem jetnya? Makan apa dia untuk energi terbang?

superman-returns

Memang cerita Superman adalah cerita fiksi. Yang mau saya tekankan ialah bahwa cerita fiksi ini berbenturan dengan ilmu alam yang selalu menjadi landasan pemikiran orang waras dalam menelaah suatu informasi. Orang waras mendasari kesimpulannya atas dasar fakta dan realitas, bukan atas dasar nafsu, emosi dan semangat isme yang dianutnya, dan secara empiris, orang akan lebih fanatik lagi dan kehilangan saringan untuk kontrol informasi yang masuk, misalnya saat berada dalam tekanan dan kesulitan ekonomi, emosi dan kecemburuan sosial akan berada di atas logika berpikir.

Coba tengok demo berjilid-jilid di Jakarta pada masa Ahok. Sebagai seorang manusia yang dianugerahi akal pikiran, saya lebih suka melihat segala sesuatu berdasarkan fakta dan rasionalitas, bukan fanatisme buta. Ketika kasus ini ramai, meskipun saya muslim, tapi saya lebih milih masuk kerja dari pada ikut demo, bukan saya tidak mau bela Islam, tapi untuk menyikapi orang yang menistakan agama, di QS Al-An’am 68 sudah tertulis jelas, cukup tinggalkan orang tsb sampai dia mengganti topik yang lain, tidak perlu didemo berjilid-jilid, saya tidak tahu mereka yang ikut demo tahu perintah di Al-Qur’an ini atau lebih memilih perintah Habiebnya, mungkin mereka berpikir Al-Qur’an bisa salah sedangkan Habieb dan ulama tidak, entah lah.

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). QS Al-An’am: 68.

Faktanya, ada tiga alasan utama yang melatar belakangi kasus di atas:

  1. Ahok adalah “Cina kafir” dan kaya. Di masa 98, golongan ini pun menjadi target kerusuhan meskipun orang kaya tidak hanya dari kalangan mereka saja, pendatang dari India dan Arab yang sudah jadi WNI pun banyak yang kaya, tapi mereka tidak menjadi target masa pribumi.
  2. Akan ada perebutan posisi gubernur. Ahok yang meskipun “Cina kafir”, tetapi memiliki basis pemilih muslim yang cukup besar, ini tdak bagus untuk lawan politiknya yang muslim, isu besar harus diciptakan.
  3. Kondisi ekonomi yang sedang menurun. Habib Rizieq sangat vokal tidak hanya di tahun 2016, sebelum-sebelumnya pun sama, tapi kenapa masa mulai bisa dikonsentrasikan baru pada tahun 2016? Di masa menjelang krisis, orang-orang yang dulu sibuk kerja satu persatu kehilangan pekerjaannya, dari yang dulu kerja tetap, menjadi kerja serabutan, narik gojek misalnya, yang dulu kerja serabutan menjadi tidak punya kerjaan sama sekali, orang-orang seperti ini lebih mudah dihasut, emosi harus disalurkan.

Kasta dan Politikus

Agar sistem bunga berbunga bisa berjalan, bankir perlu pemerintah yang patuh terhadap sistem, sedikit korup tidak akan jadi masalah, selama hak penciptaan uang di tangan mereka, mereka tidak akan peduli siapa yang memegang tampuk kepemimpinan.

A51Z1hsCIAAD5st

Sistem kasta adalah penggolongan masyarakat berdasarkan profesinya. Brahmana adalah kelas terpelajar, Wesia adalah kelas pekerja, Ksatria adalah kelas birokrat dan politikus, dan sudra adalah kelas terbuang. Untuk kelas brahmana dan wesia, peran dan kontribusi mereka untuk kemakmuran jelas. Tetapi untuk kelas ksatria, politikus, saya tidak pernah mengerti apa kontribusi mereka untuk kemakmuran masyarakat.

Budaya manusia dibentuk dan direkayasa salah satunya oleh apa yang disebut dengan sejarah. Berbicara tentang orang-orang yang berjasa, berguna bagi umat manusia, banyak dari kita yang tidak bisa menyebutkannya. Misalnya, pada saat kalian mengendari mobil di jalan beraspal yang mulus, pernahkah kalian berpikir siapa yang menemukan aspal? Kalau kita bersantai di rumah, pada hari hujan lebat, pernahkah berpikir siapa yang menemukan semen? Berapa banyak benda-benda yang memudahkan hidup kita yang terbuat dari semen selain rumah; jembatan, jalan, tanggul penahan ombak, dermaga kapal. Aneh bukan kalau penemu semen tidak ada yang tahu?

Kalau kalian disuruh menyebutkan siapa presiden pertama Amerika Serikat, atau presiden Indonesia zaman Orba, maka dengan mudah kalian menyebut nama G. Washington dan Soeharto. Aneh kan? Jasa apa yang mereka buat yang berkaitan dengan kenyamanan hidup kita. Ambil saja Kemal Attartuk, Apa jasa dia kepada umat manusia sehingga namanya ada di buku-buku sejarah dan harus dipelajari dan membuat kalian hapal? Bandingkan dengan penemu aspal atau semen yang jelas-jelas berjasa bagi umat manusia.

Dunia diciptakan oleh politikus. Politikus atau dalam bahasa kastanya tidak lain adalah kelas ksatria adalah golongan benalu yang tidak produktif. Yang disebut politikus, untuk mendapatkan pembenaran keberadaannya harus membuat image bahwa mereka penting. Mereka membuat pahlawan dari kalangannya dan mengagung-agungkannya. Semua itu dilakukan lewat sejarah dan diajarkan di sekolah-sekolah. Dalam sejarah, adakah diceritakan tentang penemu semen, aspal, kain katun atau nilon? Yang ada hanya cerita mengenai presiden, mentri, jenderal, dan sejenisnya, dan mereka semua hebat. Saya akan memberikan contoh detail.

Pembentukan image bahwa politikus adalah kaum yang penting adalah sangat universal, kecuali mungkin dalam budaya Islam yang populer seperti 4 khalifah atau gubernur Afrika Utara zaman Umar bin Khattab, Amr bin Ash yang justru menurunkan pemasukan pajak dari 72 juta dinar per tahun di zaman pemerintahan Romawi menjadi hanya 12 juta dinar, tetapi kemakmuran meningkat. Kasus seperti ini sangat langka, apalagi dalam sejarah kontemporer.

Kita lihat bagaimana bangsa ini membanggakan perang kemerdekaan yang heroik dan penuh romantisme. Bagi yang tidak merasakan kesengsaraan perang, nampak seakan perang itu indah, heroik dan penuh romantisme. Tetapi, saya berani bertaruh kalau kalian berada di medan perang dan tertembak kakinya, Tidak mati dan tidak hidup, dikepung musuh, mungkin kalian akan kencing dicelana karena ketakutan atau lebih baik bunuh diri untuk menghilangkan stres. Saya mungkin yang masih waras dan tidak mempan tentang cerita semacam itu. Kalau kalian berpikir, apa gunanya perang? Suriname bisa merdeka tanpa perang, juga Malaysia, Singapura dan sederet lagi. Di banyak kasus, perang adalah tindakan bodoh dengan pengorbanan sia-sia. Jangan tanyakan hal ini kepada politikus, mereka akan membantahnya.

Ayat di bawah ini mungkin bisa jadi renungan:

“Pada hari muka mereka berbolak balik dalam neraka mereka berkata; ‘Hai kiranya kami taat kepada Allah dan kami taat kepada Rasul’. Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesunguhnya kami telah mengikuti pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka sesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami datangkanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar”. (Al Ahzaab : 66-68)

Harus diakui bahwa tidak semua warga ksatria dalam sejarah digambarkan sebagai pahlawan. Hitler, Mussolini masuk dalam satu grup dengan Rahwana atau Kurawa, the bad guy. Mungkin Hitler dan Mussolini tidak lebih buruk dari Abraham Lincoln. Hanya saja, para penulis sejarah tidak berpihak pada Hitler dan Mussolini karena mereka di pihak yang kalah dan tidak mempunyai kontrol terhadap penulisan sejarah.

Di Indonesia pada saat ini, terjadi fenomena bahwa orang sedang berlomba-lomba menjadi kelas ksatria aktif. Apakah itu ikut dalam partai politik atau organisasi kedaerahan. Zaman Soeharto, kebanyakan jadi ksatria pasif. Pada waktu itu, rezim Soeharto merekrut banyak pegawai negeri untuk dijadikan anggota Korpri yang mendukung partai berkuasa. Seandainya waktu itu 90% pegawai negeri dipecat, keadaan mungkin sama saja, tidak berpengaruh terhadap jalannya roda pemerintahan, bahkan mungkin lebih baik, karena tidak banyak pengganggu dalam masalah perizinan. Keadaan sekarang lebih parah, karena posisi ksatria memang menggiurkan dari pada kelas wesia, kelas ksatria tidak membutuhkan ketrampilan. Lagi pula kelas benalu/ksatria kenyataannya menguasai, mengatur-atur, menindas dan bisa menakali kelas wesia. Tetapi jangan lupa bahwa yang menghidupi masyarakat adalah kelas wesia.

Perpindahan dari kelas wesia yang produktif ke kelas ksatria yang benalu merupakan proses pemiskinan masyarakat. Kalau fenomena ini berlangsung terus, jangan iri kalau Malaysia jauh lebih makmur dari pada Indonesia, walaupun dari segi sumber alamnya Indonesia lebih banyak. Kemakmuran tidak butuh kelas politikus/ksatria.

Ada hasil survey yang dilakukan oleh Tranparancy International Indonesia (TII) tentang indeks persepsi korupsi di Indonesia, hasilnya mengatakan bahwa polisi, partai politik, parlemen (DPR) dan lembaga peradilan adalah lembaga terkorup di Indonesia. Posisi juara selalu berpindah tangan dari tahun ke tahun dan finalisnya tetap sama, polisi, parlemen, peradilan dan partai politik.

Tahun depan, kita akan memilih para ksatria untuk didudukkan sebagai pelaksana kekuasaan dan sebagai pembuat aturan. Dari satu periode ke periode lainnya sudah kita lakukan. Apakah hidup kita lebih makmur? Apakah uang yang mereka tariki (pajak) dan kita bayar, sebanding dengan apa yang mereka berikan? Secara matematik, lebih baik mereka tidak ada. kalian menyewa satpam sebagai pengganti polisi untuk menjaga keamanan. Kalian pergi ke badan arbitrase kalau ada sengketa perdata, bukan ke pengadilan. Undang-undang juga sudah tumpang tindih. Jadi buat apa mereka?

tumblr_lbf5oijQkL1qac8ago1_1280

Jika tidak ada kejutan, tahun depan nama-nama yang akan disodorkan dari kaum parasit (ksatria) kepada kaum produktif (wesia) masih dia-dia lagi, dari parasit satu pindah ke parasit lainnya, apa kalian masih percaya? Kalau saya sih maaf, kursi kosong jauh lebih baik, terserah kalau kalian masih ndableg dan percaya janji mereka.

Apa yang kalian harapkan dari memilih orang-orang yang berjanji menyelesaikan masalah yang sumber masalahnya saja mereka tidak tahu? Semua masalah kontemporer, seperti kemiskinan dan kebodohan, selain karena kelas benalu (politikus) yang korup, juga karena sistem riba yang menjadi poin utama di artikel ini.

Jepang yang pemerintahnya jauh lebih jujur dan bersih dari Indonesia memiliki hutang perkapita paling tinggi di dunia, Singapura, Peranis, Italia, semua ada di gerbong yang sama. Jika kalian berpikir bahwa Islam satu-satunya agama yang menentang riba, maka kalian salah besar, tentangan dari agama Yahudi dan Nasrani pun sama.

 “Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan.” Ulangan 23:19

“Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.” Imamat 25:36-37

Realita saat ini

Sejauh yang saya tahu, menyampaikan kejujuran itu bukan perbuatan dosa, menandatangani surat yang membolehkan penjualan aset Pertamina dan bilang gak ingat, itu baru dosa, kalau gak percaya, tanya sendiri sama menteri BUMN.

Menjelang pilpres tahun depan, Jokowi menarik kembali perpres yang dia buat sendiri, PLN dilarang menaikkan tarif listrik sampai 2019, pertamina harus jualan premium lagi di Jawa dan Bali, solar dilarang naik. Ini semua dalihnya untuk menjaga inflasi, biarpun penentuan sampai tahun 2019 jelas karena pemilu.

Mungkin sesekali Jokowi perlu melihat grafik minyak dunia dan dollar index di pasar spot, agar bisa dibandingkan dengan APBN 2018-2019, siapa tahu berubah pikiran. Jika dia memang bekerja untuk rakyatnya, resiko tidak dipilih lagi di 2019 juga tidak akan masalah, yang salah itu mengamankan popularitas untuk 2019 dan mengorbankan rasionalitas penyusunan anggaran, begitu jebol, dampaknya kejam. Indeks USD dan harga minyak memiliki korelasi yang kuat dengan untung rugi PLN-Pertamina, juga utang dan APBN Indonesia.

Ada euforia tentang akuisisi freeport beberapa hari lalu, sayangnya baru tahap HoA alias sangat awal dan belum ada deal apa-apa, sumber pendanaan akuisisinya pun tidak jelas, dari berita beberapa hari lalu, baru terungkap bahwa dana untuk akuisisi ini didapat dari pinjaman bank asing (utang), selain menambah stok USD, praktek ini juga tidak akan menyedot uang cash dalam negeri, rupiah stabil sementara. Dampak buruknya, akuisisi ini dilakukan saat tren USD pulang kampung (naik) dan harga komoditas turun, ini seperti beli Ronaldinho menjelang pensiun dengan harga Neymar, melukai logika. Saat cicilan utang akuisisi ini ditagih kreditur, pemerintah baru sadar bahwa mudarat pembelian freeport ini lebih besar dari manfaatnya.

Skenario krisis

ekonomi dunia sudah sangat sakit sejak tahun 2008, di masa krisis muncul ide bank sentral yang disebut Quantitave Easing alias kredit murah secara besar-besaran untuk memompa ekonomi yang sudah overdosis. Masalah kredit (hutang) diselesaikan dengan kredit (hutang) yang lebih besar. Orang sakau diobati dengan heroin yang dosisnya lebih tinggi, sembuh? Silakan pikir sendiri. Media kemudian memberitakan bahwa dunia sudah berada di jalur pemulihan ekonomi. Begini, yang mereka sebut pemulihan itu hanya dampak stimulus. Ketika efeknya habis, maka ekonomi kembali ke tren semula, resesi. Ketika efek heroin habis, orang yang teler akan kembali sakau, segala sesuatu yang ditiup dari ilusi, akan berakhir juga sebagai ilusi.

Dalam banyak segi, krisis yang akan datang ini punya kemiripan dengan krisis depresi 1930. Bedanya, pada krisis 1930, US berperan sebagai konsumen, produsen, sumber kredit, dan sumber bahan baku. Sekarang, peran-peran ini sebagian digantikan oleh Cina, India dan negara berkembang lainnya, Jepang sebagai produsen, US sebagai sumber kredit dan konsumen dan Australia, Kanada, Brazil dan Indonesia sebagai sumber bahan baku, dengan kata lain, skala penjalarannya lebih luas. Satu lagi, di masa resesi 1929, USD masih di-back up oleh emas, sedangkan di masa sekarang, yang mem-back up USD hanyalah surat utang pemerintah, janji untuk membayarnya di kemudian hari, rapuh. ini artinya, kita akan mengalami krisis terburuk yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Ketika great depression 1929, tahun-tahun setelahnya terjadi perang dunia II, bagaimana dengan kita nanti? entah lah, mungkin Donald Trump sudah punya bayangannya.

Di zaman modern, mayoritas negara dan perusahaan besar menggantungkan nyawanya pada kredit, kredit dibuat untuk ekspansi dan pembayaran hutang lama. Namun, di masa krisis, kredit menjadi mahal dan susah diperoleh. Bank-bank komersial tidak mau menyalurkan kredit lagi dan tidak memperpanjang kredit yang jatuh tempo. Perusahaan dan pemerintah yang sebelumnya menikmati berenang di dalam danau kredit USD, akan gelagapan karena danaunya membeku. Untuk bisa tetap terapung, mereka mencari dollar yang masih cair, atau mencairkan aset-aset yang lain untuk bisa memperoleh USD untuk mengembalikan kreditnya yang dalam bentuk USD. Oleh sebab itu, kita akan melihat nilai USD akan terbang, lebih membumbung dari krisis 97-98.

Selepas 2009, semua negara dan perusahaan besar seperti lari maraton di kilometer terakhir, sebelum kehabisan nafas di masa ini karena bubble kredit pecah. Nasib yang paling tragis akan dialami oleh negara yang hidupnya dari uang panas dan penuh dengan leverage. Kita ambil contoh krisis keuangan global 2008, Islandia yang berbasis jasa keuangan, mengalami keruntuhan finansial. Tiga bank besarnya (Kaupthing, Landsbanki, Glitnir) runtuh karena mengalami kesulitan memenuhi kewajiban (hutang) jangka pendek dan tidak bisa mejadwal-ulang hutang jangka pendeknya. Para nasabah terutama di Inggris menarik depositnya dan membuat bank-bank ini kolaps. Krisis di Islandia ini mengancam negaranya kearah kebangkrutan. Islandia yang GDP per kapitanya US$65,000 (no 4 di dunia) berada di tepi jurang kebangkrutan. Krisis Islandia ini membebani kira-kira $55,000 setiap anak dan orang dewasa di Islandia.

Bagaimana dengan posisi Indonesia? Apa sudah menjelang krisis? Kalau pertanyaan ini dilontarkan ke Sri Mulyani, jawabnya tentu tidak. Dia sangat percaya diri bahwa krisis seperti 1998 sudah jadi sejarah. Tetapi, percaya diri bukan jawaban pertanyaan di atas. Analisa lebih penting dari itu.

Dalam semua analisa, saya selalu berusaha menyajikannya dengan data yang kredibel dan bisa dipercaya. Kita mulai dari cadangan devisa: akhir Januari 2018, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar $131.98 milyar, dan pada akhir Juni kemarin, jumlahnya susut menjadi $119.8 milyar, baru turun 9.2%. selanjutnya posisi USD-Rp: di bulan Januari, USD tercatat masih 13.290 dan saat tulisan ini dibuat, posisinya naik ke 14.515 atau sekitar 9.2%, identik dengan penurunan devisa? Baik, selanjutnya saya akan jelaskan seberapa penting devisa di suatu negara.

Cadangan devisa, selain dipakai untuk stabilisasi nilai mata uang sebuah negara, juga berperan vital untuk membiayai belanja impor dan pembayaran utang valas. Posisi cadangan devisa Indonesia per bulan Juni 2018 yang sebesar $119.8 milyar setara dengan pembiayaan untuk 7,2 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka USD119,8 miliar tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Sekarang, kita masuk hitung-hitungan selanjutnya. Hutang jangka pendek pemerintah plus swasta saat ini adalah $45 milyar. Hanya 37% dari cadangan devisa. Setidaknya kewajiban hutang yang jatuh tempo dalam waktu dekat ini masih bisa teratasi oleh cadangan devisa. Selanjutnya dana asing di bursa saham dan obligasi. Pemerintah sering membanggakan diri bahwa kepercayaan investor asing terhadap Indonesia cukup tinggi. Lembaga rating mengkategorikan surat hutang Indonesia ke level investment grade.Pemerintah boleh bangga terhadap itu semua, tetapi tidak bisa disangkal bahwa investasi portfolio adalah investasi yang likuid. Dana bisa keluar dan masuk secara cepat. Nah, bagaimana kalau investor asing (bukan lokal) melakukan redempsi (pencairan) portfolionya dan hengkang dari Indonesia? Berapa besar mereka ini?

Investasi di pasar obligasi Indonesia, ada sekitar $40 milyar dimiliki asing. Sedangkan di pasar saham ada sekitar $128 milyar dimiliki asing. Ini berarti $168 milyar portfolio asing ada di bursa.

Tanpa melihat yang lain-lain, perbandingan antara cadangan devisa yang pada bulan Juli 2018 yang hanya $119 lebih sedikit dengan jumlah modal portfolio asing yang $128 milyar, kalian bisa menyimpulkan sendiri apakah portfolio asing ini madu atau racun, atau tuak yang memabukkan.

Akhir tahun 2017 lalu, pemerintah merencanakan untuk menerbitkan surat hutang sebasar Rp 433 trilliun. Apakah itu dalam US dollar yang kira-kira nilainya $30 milyar, atau dalam rupiah. Anggap saja dalam US dollar. Ini adalah asumsi yang paling enak untuk pemerintah. Artinya, pemerintah akan memperoleh tambahan $30 milyar untuk mempertahankan rupiah dan menutup defisit neraca berjalannya, lumayan $30 milyar.

Amunisi vs Ancaman:

Amunisi: Cadangan devisa: $119 milyar, tambahan dari hutang: $30 milyar (mungkin bisa ada), total kekuatan: $149 milyar

Ancaman: Hutang jangka pendek: $  45 milyar (wajib dibayar), portfolio asing di bursa: $168 milyar, total ancaman: $213 milyar

Dari perimbangan amunisi dan ancaman ini, terlihat pemerintah akan tercecer dalam menghadapi krisis, dan itu baru mempertimbangkan dana asing yang keluar, yang lebih seru adalah jika investor lokal ikut-ikutan panik, entahlah. Menurut kalian, apakah pemerintah siap? Yang lebih penting lagi, apakah kalian siap?

Renungan

Untuk sekarang, mungkin tulisan saya terlihat agak sedikit berlebihan dan sangat negatif, tapi saat akhir tahun nanti ketika keadaan (mungkin) memburuk, kalian akan menyadari kalau tulisan di sini ternyata murni menyajikan kebenaran.

Terakhir, karena manusia adalah makhluk yang dapat berpikir, saya ingin memberikan sebuah pengandaian:

Saat kapal Titanic berjarak 100 m lagi untuk menabrak gunung es, nakhoda memberikan pengumuman pada semua penumpang agar tetap tenang, kapal akan baik-baik saja dan tidak akan tenggelam, alasannya karena tidak ada cukup sekoci untuk menyelamatkan diri, ditambah, kapal-kapal lain dari Jepang dan Eropa bahkan berjarak lebih dekat ke gunung es dibanding kapal kita, dan mereka semua tidak berbalik arah, ini berarti semua kondisi aman terkendali. Pertanyaannya, jika kalian adalah penumpang di kapal Titanic itu, apa kalian akan percaya?

Mengenai pilihan percaya atau tidak dengan apa yang saya sampaikan, kembali kepada pilihan masing-masing. Analisa saya mungkin bisa salah, tapi kejujuran saya bisa dijamin.